Rupiah Diramal Melemah Tertekan Kenaikan Yield Obligasi AS

Analis memperkirakan rupiah akan berbalik melemah setelah dibuka menguat pagi ini akibat tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang masih berlanjut.
Image title
8 Oktober 2021, 09:39
rupiah, nilai tukar, sri mulyani
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Ilustrasi. Rupiah bergerak menguat pagi ini di posisi Rp 14.212 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,05% ke level Rp 14.210 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini. Namun, analis memperkirakan rupiah akan berbalik melemah di tengah tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang masih berlanjut.

Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan penguatan ke level Rp 14.205 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB. Rupiah bergerak semakin jauh dari penutupan kemarin di level Rp 14.217 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Yen Jepang melemah 0,22, bersama dolar Hong Kong 0,01%, dolar Taiwan 0,07%, won korea Selatan 0,14%, yuan Cina 0,08% dan bath Thailand 0,17%. Sedangkan dolar Singapura menguat 0,01% bersama peso Filipina 0,10%, rupee India 0,26% dan ringgit Malaysia 0,02%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar rupiah akan kembali tertekan di kisaran Rp 14.230, dengan potensi support di level Rp 14.200 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipengaruhi tren kenaikan yield surat utang pemerintah AS yang masih berlangsung.

"Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kemungkinan akan tertahan hari ini dengan kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS mengantisipasi tapering off. Kenaikan yield ini bisa mendorong penguatan dolar AS," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (8/10).

Yield obligasi pemerintah AS berada di level 1,58% pada perdagangan kemarin (7/10). Ini merupakan rekor tertinggi sejak 16 Juni 2021 sebesar 1,57%. Tren kenaikan yield US Treasury sudah berlangsung sejak akhir bulan lalu, tetapi sempat turun di bawah 1,50% pada awal bulan ini. Kemudian kembali naik pada awal pekan ini dan terus bertahan di atas level 1,50%.

Kenaikan tersebut dinilai masih dipengaruhi kuat antisipasi pasar terhadap rencana tapering off alias pengetatan stimulus bank sentral AS (The Fed). Pasar mengantisipasi The Fed akan mengumumkan rencana pengurangan pembelian aset pada pertemuat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan depan dan memulai tapering pada Desember 2021.

Selain itu, kenaikan suku bunga juga diprediksi bisa dimulai pada kuartal III tahun depan atau setelah pembelian aset berakhir pada paruh pertama. Hal ini karena kondisi inflasi yang masih tinggi mendorong sebagian besar anggota komite FOMC melihat kenaikan suku bunga bisa lebih cepat dari perkiraan semula tahun 2023.

Ariston juga mengatakan pasar masih menantikan data tenaga kerja AS versi pemerintah yang akan dirilis malam ini. Pasar memperkirakan kondisinya membaik dengan adanya penambahan tenaga kerja baru lebih banyak, sehingga memicu rencana tapering makin kuat. Hal ini karena data tenaga kerja menjadi pertimbangan utama The Fed memulai tapering off, di samping tingkat inflasi.

Dari dalam negeri, Ariston mengatakan laporan cadangan devisa Agustus yang semakin tebal akan membantu menahan pelemahan rupiah tidak terlalu dalam. Ini memberi kabar positif terhadap kondisi ketahanan sektor eksternal RI di tengah tekanan rencana tapering The Fed.

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 146,9 miliar pada akhir September 2021. Jumlah itu naik 1,42% jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 144,8 miliar dan juga mencatatkan rekor tertinggi.

Posisi cadangan devisa setara dengan pembiayaan 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kenaikan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa. Selain itu, penarikan utang luar negeri pemerintah juga mempengaruhi kenaikan cadangan devisa pada bulan lalu.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait