BI: Kegiatan Usaha Melambat Pada Kuartal III Tertekan PPKM

Perlambatan kegiatan usaha akibat penerapan PPKM, terutama terjadi di sektor pertambangan serta perdagangan, hotel dan restoran (PHR).
Image title
13 Oktober 2021, 13:44
kegiatan usaha, ppkm, bank indonesia
ANTARA FOTO/Zabur Karuru/foc.
Ilustrasi. Perlambatan kinerja pada kuartal III 2021 terjadi di mayoritas sektor usaha. Sektor pertambangan dan penggalian masih tumbuh positif tetapi melambat dengan SBT 4,01%, dibanding kuartal sebelumnya 8,50%.

Bank Indonesia (BI) melaporkan kegiatan usaha pada kuartal III 2021 terindikasi melambat akibat penerapan PPKM selama tiga bulan penuh. 

Perlambatan kegiatan usaha tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada periode Juli-September sebesar 7,58%, turun dari kuartal sebelumnya 18,98%. Namun, ini masih lebih baik dari kontraksi 5,97% pada periode yang sama tahun lalu.

"Perlambatan kinerja sejalan dengan penerapan PPKM Darurat dan PPKM level 1- 4 yang terjadi sepanjang Juli-Agustus 2021 sehingga berdampak pada penurunan aktivitas masyarakat," demikian tertulis dalam laporan BI bertajuk Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Rabu (13/10).

Perlambatan kinerja terjadi pada mayoritas sektor usaha. Sektor pertambangan dan penggalian masih tumbuh positif tetapi melambat dengan SBT 4,01%, dibanding kuartal sebelumnya 8,50%. Ini juga menandai pembalikan setelah kinerja sektor ini terus menguat sejak kuartal III tahun lalu.

"Perlambatan terjadi pada subsektor minyak dan gas bumi, sejalan dengan melambatnya kenaikan harga minyak dunia sebesar 6,80% secara tahunan, dibandingkan pada kuartal sebelum yang tumbuh 14,27%," demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tumbuh positif tetapi melambat dengan SBT 0,01%,  tetapi melambat dibandingkan kuartal II 2021 sebesar 3,66%. Perlambatan dipengaruhi subsektor hotel dan restoran yang masing-masing terkontraksi 0,20% dan 0,03%, sedangkan subsektor perdagangan melambat tetapi masih positif dengan SBT 0,24%.

PPKM juga memukul sektor industri pengolahan yang terkontraksi 0,10%. Padahal sektor ini pada kuartal sebelumnya berhasil tumbuh 2,46%. Beberapa subsektor yang melaporkan kontraksi terutama di industri pengolahan barang kayu dan hasil hutan lainnya, subsektor makanan, minuman dan tembakau dan industri tekstil, barang kulit dan alas kaki.

Sektor usaha pengangkutan dan Komunikasi juga selama tiga bulan terakhir memasuki zona kontraksi dengan SBT 0,29%, turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih bisa tumbuh 0,80%. Sektor lainnya yang tumbuh melambat yakni industri listrik, gas dan air bersih dengan pertumbuhan 0,24%, relatif stabil dari kuartal sebelumnya 0,27%. Hal yang sama juga di industri keuangan, real estate dan jasa perusahaan dengan nilai SBT 0,53%, lebih rendah dari sebelumnya 2,04%.

Di sisi lain, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan tercatat mencatat kinerja yang meningkat. Hal ini tercermin dari SBT sebesar 1,91%, naik dari kuartal sebelumnya 1,38%. Peningkatan berasal dari subsektor tanaman perkebunan, kehutanan dan perikanan dengan masing-masing SBT sebesar 0,34%, 0,26% dan 0,27%.

"Sejalan dengan musim panen pada komoditas perkebunan dan cuaca yang mendukung aktivitas kehutanan dan perikanan," kata BI.

Sektor kontsruksi juga tampaknya tidak banyak terdampak restriksi, SBT jenis usaha ini terindikasi tumbuh positif 0,74% setelah kuartal sebelumnya terkontraksi 0,22%. Peningkatan didorong oleh permintaan dalam negeri yang meningkat serta beberapa proyek yang sudah kembali berjalan. Kemudian kinerja sektor jasa-jasa juga meningkat dengan SBT sebesar 052%, dibanding sebelumnya hanya tumbuh 0,08%.

Proyeksi Dunia Usaha Kuartal IV

BI memperkirakan pada kuartal terakhir tahun ini kegiatan usaha cenderung stabil dengan nilai SBT yang turun tipis menjadi 7,46% dari kuartal III sebesar 7,58%. Sektor usaha yang akan meningkat terutama industri pengolahan dan PHR. Ini didorong relaksasi PPKM di wilayah Jawa-Bali.

Sektor industri pengolahan mencatatkan SBT kuartal IV sebesar 1,13%. Perbaikan terjadi di seluruh subsektor. Kemudian sektotor PHR mencatatkan kenaikan nilai SBT menjadi 0,79%. Selain pelonggaran PPKM, membaiknya kinerja PHR juga didorong faktor musiman Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan peryaan tahun baru.

Sektor pertanian pada Oktober-Desember mendatang akan melambat dengan nilai SBT terkontraksi 1,64%. Penurunan kinerja terutama pada subsektor tanaman bahan makan sejalan dengan pola historis musim tanam.

Kemudian kinerja sektor pertambangan dan penggalian serta sektor konstruksi juga diramal melambat masing-masing dengan SBT 3,73% dan 0,45%. Perlambatan didorong kondisi akhir tahun yang memasuki musim hujan.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait