Rupiah Menguat ke 14.117 per Dolar AS, Paling Perkasa di Asia

Rupiah paling perkasa di antara mata uang negara-negara di Asia di tengah kepastian pengurangan stimulus atau tapering off Bank Sentral AS, The Federal Reserve.
Image title
14 Oktober 2021, 16:42
rupiah, rupiah hari ini, rupiah menguat, dolar AS, kurs, nilai tukar
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi. Kurs rupiah pada perdagangan sore ini menguat 0,7% ke posisi Rp 14.117 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini menguat 0,7% ke posisi Rp 14.117 per dolar AS. Rupiah paling perkasa di antara mata uang negara-negara di Asia di tengah kepastian pengurangan stimulus atau tapering off  Bank Sentral AS, The Federal Reserve.

Mengutip Bloomberg, mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,59%, dolar Taiwan 0,02%, baht Thailand 0,07%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,32%, serta ringgit Malaysia, rupee India, peso Filipina, menguat masing-masing 0,14%. Sementara itu, yuan Cina dan yen Jepang menguat masing-masing 0,10% dan 0,08%. 

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan rupiah antara lain didorong oleh dolar AS yang jatuh dari level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Dolar AS melemah seiring data inflasi AS yang menunjukkan kenaikan dan konfirmasi The Fed yang akan memulai pengurangan stimulus atau tapering off. 

Risalah dari pertemuan kebijakan The Fed pada September mengisyaratkan bahwa para gubernur bank sentral dapat mulai mengurangi dukungan era krisis mereka untuk ekonomi pada pertengahan November,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (14/10). 

Sementara dari dalam negeri, menurut dia, penguatan rupiah ditopang oleh optimisme pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang lebih baik dari prediksi-prediksi sebelumnya. Ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini diperkirakan tumbuh 3,5% hingga 4,5% secara tahunan. 

“Optimisme pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga dipengaruhi oleh low base effect dan pengendalian Covid-19 yang semakin baik. Low base effect terjadi karena pada kuartal ketiga tahun lalu, ekonomi minus 3,49%,” kata dia. 

Selain itu, menurut dia,  mobilitas masyarakat yang membaik mulai akhir kuartal ketiga 2021 atau bulan September 2021 turut menopang belanja masyarakat. Konsumsi rumah tangga  mulai rebound disusul oleh produksi industri manufaktur yang tercatat memasuki fase ekspansi.

Ia menjelaskan, PMI Manufaktur per September 2021 mencapai 52,2 atau berada di atas level 50. Hal ini menunjukkan bahwa produsen mulai berekspektasi pemulihan permintaan domestik cukup solid hingga akhir tahun. 

“Menjelang perayaan natal dan tahun baru 2020, masyarakat juga akan semakin banyak melakukan belanja dan wisata ke depan sehingga konsumsi masyarakat diperkirakan akan terus membaik, kata dia. 

Sementara itu, menurut dia, booming harga komoditas yang masih berlangsung pada Kuartal Ketiga 2021 cukup membantu pemulihan sektor perkebunan maupun pertambangan. Itu bisa terlihat dari kinerja ekspor masih bisa bertahan positif dengan surplus perdagangan yang menakjubkan yakni US$ 4,7 miliar per Agustus 2021 lalu.

Ibrahim memperkirakan, rupiah pada perdagangan besok akan bergerak berfluktuasi. Kurs rupiah besok akan ditutup menguat  di rentang   Rp 14.080 - Rp 14.130 per dolar AS.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait