Ekspor ke Cina dan India Anjlok pada September, Apa Penyebabnya?

Ekspor ke India pada September turun US$ 428 juta, sedangkan ke Cina turun US$ 236 juta dibandingkan bulan sebelumnya.
Image title
15 Oktober 2021, 17:49
ekspor, BPS, cina, india
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.
Ilustrasi. BPS mencatat, ekspor Indonesia pada September mencapai US$ 20,60 miliar, turun 3,84% dibanding bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor Indonesia ke dua mitra dagang utamanya di Asia, yakni Cina dan India anjlok pada September 2021. Ekspor ke India turun US$ 428 juta, sedangkan ke Cina turun US$ 236 juta. 

Ketua BPS Margo Yowono menjelaskan, nilai ekspor nonmigas ke India pada September tercatat US$ 1,23 miliar, turun dibandingkan Agustus US$ 1,71 miliar. Sementara ekspor nonmigas ke Cina turun dari US$ 4,78 miliar menjadi US$ 4,54 miliar. 

"Ekspor nonmigas ke India turun karena ekspor lemak dan minyak hewan nabati yang turun 67,63%. Ekspor pupuk juga turun 53,55%," kata Ketua BPS Margo Yuwono dalam konferensi persnya, Jumat (15/10).

Sementara penurunan ekspor ke Cina, menurut dia, terutama disebabkan oleh penurunan ekspor bahan bakar mineral sebesar 15,22% secara bulanan. Ekspor lemak dan minyak hewan nabati juga turun 19,02%.

Selain Cina dan India, penurunan ekspor juga terjadi untuk perdagangan dengan Jepang. BPS mencatat, nilai ekspor ke Jepang pada September sebesar US$ 1,54 miliar, turun dari sebelumnya US$ 1,64 miliar.  Ekspor ke Belanda juga bekurang sebesar US$ 116,8 juta.

Margo belum bisa memastikan apakah penurunan ekspor, khususnya ke India dan Cina berkaitan dengan krisis energi yang tengah terjadi. "Perlu kajian lebih lanjut lagi, kami belum bisa mengaitkannya secara langsung," kata Margo.

Namun, nilai ekspor ini masih melesat dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai 47,64%.

Mayoritas ekspor tersebut merupakan kategori barang non-migas sebesar US$ 19,67 miliar. Nilainya secara bulanan juga turun yakni 3,38%, sementara secara tahuan naik 48,03%. Sedangkan impor migas pada September sebesar US$ 930 juta, turun 12,56% dari bulan sebelumnya sebesar US$ 1,07 miliar. Meski begitu secara tahunan masih mencatatkan kenaikan sebesar 39,79%.

Sekalipun ekspor ke Cina dan India turun, kedua negara ini masih berada dalam daftar lima besar tujuan ekspor utama RI bulan lalu. Cina masih menjadi pangsa pasar utama ekspor RI, nilai ekspor ke Cina US$ 4,54 miliar atau setara 23,10% dari total ekspor. Kemudian India berada di urutan keempat dengan nilai US$ 1,23 miliar atau 6,28% dari total ekspor.

Selain itu, penurunan nilai ekspor ke kedua negara tersebut rupanya diikuti penurunan nilai impornya. Impor dari Cina tercatat sebesar US$ 4,43 miliar, nilainya turun US$ 518 juta. Dengan demikian, RI berhasil mencetak surplus dengan Cina sebesar US$ 106 juta.

Sementara impor dengan India juga turun US$ 148 juta, dari bulan Agustus sebesar US$ 664 juta, menjadi US$ 515 juta. Dengan demikian Indonesia juga mencatat surplus sebesar US$ 718 juta dengan negeri bollywood tersebut.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait