BI Pastikan Lonjakan Harga Produsen Tak Menjalar ke Inflasi Konsumen

Image title
18 November 2021, 19:49
inflasi, harga produsen, bank indonesia
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj.
Ilustrasi. BI memperkirakan, inflasi IHK secara keseluruhan tahun 2021 maupun 2022 masih akan berada dalam kisaran target BI sebesar 2%-4%.

Indeks harga produsen (IHP) mencatatkan inflasi pada kuartal III 2021 sebesar 1,8% dibandingkan kuartal kedua 2021 atau 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan lonjakan inflasi harga di tingkat produsen tak akan merembet ke inflasi indeks harga konsumen (IHK). 

"Memang ada kenaikan inflasi di tingkat produski tapi belum berpengaruh terhadap kenaikan harga di tingkat konsumen," ujar Perry dalam konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan November, Kamis (18/11).

Perry mengatakan ada tiga indikator yang mendukung asumsinya. Pertama, ketersediaan penawaran agregat masih jauh memadai dibandingkan jumlah permintaan. Penawaran agregat merupakan ketersediaan dari sisi pasokan atau produksi nasional. Ketersediaan dinilai cukup untuk memenuhi permintaan yang mulai meningkat.

Perry mengatakan IHK terpantau masih mengalami inflasi yang rendah, baik dari sisi inflasi secara keseluruhan maupun inflasi komponen inti. IHK pada bulan lalu secara keseluruhan mencatatkan inflasi 0,12% secara bulanan dan 1,66% secara tahunan. Sementara capaian inflasi inti lebih rendah, yaitu hanya 0,07% secara bulanan dan 1,33% secara tahunan.

Kedua, stabilitas nilai tukar membantu menahan kenaikan yang signifikan pada harga-harga domestik. Perry mengatakan, nilai tukar rupiah masih stabil bahkan cenderung menguat saat terjadi booming harga komoditas global sejak beberpa bulan terakhir. Dengan demikian, kenaikan harga global tersebut tidak merembet ke dalam negeri.

Ketiga, eksepktasi inflasi masih terjaga. Perry mengatakan ekspektasi inflasi tersebut dapat dilihat dari survei ekspektasi konsumen yang dirilis BI, survei kegiatan dunia usaha yang menggambarkan inflasi di tingkat produsen, dan proyeksi para ekonom untuk mengukur inflasi di pasar keuangan.

"Keseluruhan dari tiga indikator ini menunjukan inflasi yang masih rendah," kata Perry.

Dengan pertimbangan tersebut, Perry juga mengatakan inflasi IHK secara keseluruhan tahun 2021 maupun 2022 masih akan berada dalam kisaran target BI sebesar 2%-4%. 

Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi terus meningkat belakangan ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi di tingkat produsen yang ditunjukkan oleh Indeks Harga Produsen (IHP) di tiga sektor utama yaitu pertanian, pertambangan dan industri pengolaha naik pada kuartal III 2021. IHP tiga sektor tersebut naik 1,87% dibandingkan kuartal sebelumnya, dan kenaikan 7,26% dibandingkan kuartal III 2020. 

Inflasi tertinggi di sektor pertambangan mencapai 12,78% secara kuartalan dan 47,76% secara tahunan. Sektor pertanian inflasi 1% secara kuartalan dan 4,69% dari tahun lalu. Inflasi sektor industri pengolahan sebesar 0,43% secara kuartalan dan 3,05% secara tahunan.

Lonjakan di sisi produsen ini menjadi kekhawatiran mengingat beberapa negara menunjukkan pola serupa, terutama di Cina. Inflasi harga produsen di negeri tirai bambu itu melonjak ke level tertingginya.

IHK di Cina pada bulan lalu sebenarnya masih rendah yakni 1,5% secara tahunan. Kendati demikian, pasar mengkhawatirkan inflasi harga produsen Cona yang meroket ke level 13,5% secara tahunan. Ini merupakan rekor tertinggi dalam 26 tahun terakhir. Kenaikan inflasi di tingkat produsen dikhawatirkan akan menyeret kenaikan harga-harga di tingkat konsumen.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan sekalipun IHK belum naik signifikan tapi beberapa komponen lain sudah menunjukkan kenaikan. Indeks Harga Perdagangan Besar mencatat inflasi 0,18% secara bulanan dan 2,87%. Kenaikan bulanan menunjukkan pembalikan setelah sebelumnya deflasi 0,01%, namun secara tahunan turun tipis dari 2,89%.

"Artinya perdagangan besar sudah mengcover kenaikan tarif logistik karena container harganya makin mahal. Tetapi mempertimbangkan beberapa bulan terakhir permintaan mungkin belum kelihatan, mereka belum berani menaikkan ke harga konsumen, makanya belum terefleksi ke IHK," kata Josua kepada Katadata.co.id, Kamis (11/11).

Ia memperkirakan inflasi akan meningkat menuju akhir tahun dan berlanjut hingga tahun depan. Ini terutama didorong kenaikan dari sisi permintaan seiring berbagai sektor ekonomi yang mulai dibuka. Di sisi lain, masalah rantai pasok global kemungkinan akan mulai terasa yang dapat menghambat supply barang.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait