Kewajiban Neto Investasi RI Naik Jadi US$ 276 M Terdorong Ekspor

Image title
22 Desember 2021, 14:40
kewajiban indonesia, kewajiban ekspor, ekspor, investas
Arief Kamaludin|KATADATA
BI mencatat posisi kewajiban Indonesia pada akhir kuartal III sebesar US$ 707,8 miliar.

Bank Indonesia (BI) melaporkan kewajiban neto investasi internasional Indonesia pada akhir kuartal III 2021 naik dari US$ 264,7 miliar menjadi US$ 275,9 miliar. Kenaikan ini dipengaruhi oleh peningkatan pada Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) seiring kinerja ekspor yang terus mencetak rekor.

Direktur Ekskutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryoni mengatakan posisi kewajiban neto investasi Indonesia di akhir September setara 24,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Peningkatan posisi KFLN Indonesia didukung membaiknya kinerja korporasi sejalan dengan kuatnya kinerja ekspor dan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik," kata Erwin dalam keterangan resminya, Rabu (22/12).

Posisi kewajiban Indonesia pada akhir kuartal III sebesar US$ 707,8 miliar. Nilai tersebut naik 4,1% dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 680,2 miliar.

Selain dipengaruhi ekspor, kenaikan posisi kewajiban tersebut juga dipengaruhi faktor revaluasi positif atas nilai instrumen keuangan domestik akibat peningkatan harga saham beberapa perusahaan di dalam negeri.

"Peningkatan lebih lanjut bersumber dari aliran masuk investasi langsung, investasi portofolio dan investasi lainnya seiring persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik yang terjaga." kata Erwin.

Di sisi lain, posisi aset finansial luar negeri (AFLN) Indonesia pada periode yang sama juga naik, tetapi lebih kecil dari kenaikan KFLN. Aset luar negeri RI sebesar US$ 431,9 miliar, kenaikan 4% dari kuartal sebelumnya US$ 415,4 miliar.

Erwin mengatakan seluruh komponen aset meningkat dengan peningkatan terbesar pada aset cadangan devisa dan investasi lainnya sejalan dengan tambahan alokasi SDR dari IMF pada Agustus lalu. Selain itu juga peningkatan pada penempatan simpanan, dan piutang sektor swasta.

"Peningkatan lebih lanjut tertahan oleh faktor revaluasi akibat penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia serta peningkatan imbal hasil surat utang Pemerintah di beberapa negara penempatan aset," kata Erwin.

Dengan kondisi tersebut, Erwin mengatakan posisi investasi internasional Indonesia pada akhir kuartal ketiga masih tetap terjaga dan mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban investasi Indonesia yang masih didominasi instrumen berjangka panjang yakni 93,6%.

"Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Covid-19 yang didukung sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, serta otoritas terkait lainnya," ujar dia.

Meningkatnya kewajiban investasi di Indonesia sejalan dengan membaiknya kinerja korporasi bersamaan dengan berlanjutnya perbaikan pada kinerja ekspor. Badan Pusat Statistik mencatat, ekspor secara kumulatif atau sepanjang Januari-November 2021 mencapai US$ 209,16 miliar, naik 42,62% dibandingkan periode yang sama tahun ini. Kinerja ini bahkan sudah jauh melampaui kinerja sepanjang tahun lalu yang mencapai US$ 163 miliar

Adapun khusus ekspor nonmigas, nilainya mencapai US$ 197,98 miliar atau 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontribusi terbesar secara kumulatif masih dari ekspor lemak dan minyak hewan nabati yang mencapai 15,08% atau US$ 29,86 miliar, disusul bahan bakar mineral sebesar 14,94% atau US$ 29,59 miliar.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait