Impor dari Cina Turun Rp 17,4 T pada Februari karena Mesin dan Vaksin

Penurunan impor pada Februari, terutama terjadi pada impormesin dan peralatan mekanik, serta barang farmasi, terutama vaksin.
Image title
15 Maret 2022, 16:43
cina, impor, bps, eskpor impor
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.
Ilustrasi. BPS mencatat impor pada bulan Februari 2022 8,64% dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi naik 25,43% secara tahunan menjadi US$ 16,63 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Indonesia dari Cina pada bulan lalu turun US$ 1,22 miliar atau setara Rp 17,47 triliun menggunakan asumsi kurs JISDOR akhir Februari Rp 14.369 per dolar AS. Penurunan impor terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanik dan barang farmasi, terutama vaksin. 

"Dari Tiongkok, pengurangan impor terbesar pada Februari terjadi pada mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya, produk farmasi, serta besi dan baja," ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Selasa (15/3). 

 

Margo menjelaskan, impor mesin atau peralatan mekanis dan bagian pada bulan lalu secara keseluruhan turun US$ 252,3 juta. Sementara impor produk farmasi turun US$ 208 juta. 

Advertisement

“Impor barang farmasi turun 71,7% jika dibandingkan Januari. Di antaranya adalah impor vaksin turun US$ 196,5 juta atau 94,67% dibandingkan bulan lalu,” kata dia. 

Adapun kelompok barang besi dan baja mencatatkan penurunan terbesar mencapai US$ 368,2 juta. Penurunan terutama terjadi untuk impor dari Afrika Selatan, Cina, dan Rusia. 

Selain impor dari Cina, penurunan impor juga terjadi untuk barang dari Jepang sebesar US$ 233,3 juta, Korea Selatan US$ 219,4 juta, Taiwan US$ 163,7 juta. Sementara kenaikan impor terjadi untuk barang asal Australia sebesar US$ 121,1 juta, Oman US$ 100,9 juta, Thailand US$ 97,4 juta, Brasil US$ 44,7 juta, dan Selandia Baru US$ 34 juta. 

"Dari Australia, komoditasnya adalah bahan bakar mineral, biji, logam, kerak dan abu, serta logam mulia dan perhiasan," kata dia. 

BPS mencatat impor secara keseluruhan pada bulan lalu turun 8,64% dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi naik 25,43% secara tahunan menjadi US$ 16,63 miliar.  Impor migas turun 14,05% secara bulanan tetapi naik 14,84% secara tahunan menjadi US$ 2,9 miliar.  Sedangkan impor nonmigas naik 14,84% secara bulanan atau 122,52% secara tahunan menjadi US$ 2,9 miliar 

Berdasarkan kelompok barangnya, penurunan impor tertinggi  terutama terjadi pada barang konsumsi yang mencapai 23,85% secara bulanan atau 3,06% secara tahunan menjadi US$ 1,2 miliar. Sementara impor barang modal turun 7,03% secara bulanan tetapi naik 20,98% secara tahunan menjadi US$ 2,6 miliar. Impor nahan baku/penolong juga turun 7,22% secara bulanan tetapi naik 29,98% secara tahunan menjadi US$ 12,83 miliar. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait