Luhut Yakin Rerata Pendapatan Orang Indonesia Rp 143 Juta pada 2030

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, kenaikan pendapatan per kapita Indonesia akan didorong oleh digitalisasi.
Image title
15 Maret 2022, 17:25
luhut, luhut binsar pandjaitan, pendapatan per kapita
ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/aww.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, digitalisasi akan mendorong nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030 menjadi US$ 3 triliun.

Pendapatan perkapita penduduk Indonesia diperkirakan melesat hingga mencapai US$ 10 ribu atau sekitar Rp 143,2 juta (Kurs Rp 14,322 per dolar AS) pada 2030. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, kesuksesan ini tidak lepas dari pemanfaatan digitalisasi.

"Saya sampaikan paparan ini kepada Menlu Amerika dan Menlu Jerman saat datang ke kantor saya, mereka terbelalak bahwa target kita pada 2030 income per capita kita bisa jadi US$ 10 ribu roughly, kenapa? karena semua efisiensi, karena digitalisasi," kata Luhut dalam acara Kick Off Digital Economy Working Group G20 2022, Selasa (15/3). 

Berdasarkan data BPS, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun lalu naik menjadi US$ 4.349,5 setelah pada tahun 2020 turun akibat pandemi. Jika perkiraan Luhut tersebut tak meleset, maka level pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2030 akan semakin dekat ke level negara kaya alias high income dengan pendapatan per kapita yang saat ini dipatok US$ 12.695 ke atas. Indonesia juga mematok target bisa menjadi negara kaya sebelum 2045.

Luhut mengatakan, digitalisasi akan mendorong nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030 menjadi US$ 3 triliun. "Terjadi lompatan yang tidak kita sadari karena efisiensi berkat digitalisasi," kata Luhut.

Advertisement

Ia menyebutkan bukti lain bahwa ekonomi Indonesia semakin bergerak membaik, yakni mata uang rupiah yang semakin kuat. Saat terjadi outflow besar-besaran di pasar keuangan pada tahun 2015, menurut Luhut, setiap modal asing yang kabur US$ 1 miliar membuat rupiah melemah 3,7%. Namun, kondisinya berbeda dengan saat ini, setiap US$ 1 miliar capital outflow hanya menyebabkan rupiah melemah 0,5%. 

Luhut ingin momentum perbaikan ekonomi Indonesia dapat dipamerkan kepada negara-negara dunia, terutama kepada negara-negara G20. Dengan capain tersebut, ia tak ingin negara-negara G20 hanya melihat Indonesia sebagai negara berkembang seperti halnya 10 tahun lalu. 

"Ingin saya katakan kalau kita bicara keluar itu jangan kita ini kayaknya masih seperti kelas-kelas kambing, jangan," kata Luhut.

Melalui G20, Luhut juga ingin Indonesia bisa memamerkan keberhasilan dalam memanfaatkan digitalisasi bukan hanya untuk mendongkrak ekonomi. Pemanfaatan big data juga telah membantu pemerintah dalam penanganan pandemi.

"Kita ini sebenarnya pemakai (digitalisasi) yang hebat, penyelesaian covid-19 kemarin itu banyak memanfaatkan digital, kita pakai Facebook, kita pakai NASA, kita pakai Google, jadi mobilitas itu bisa kita ketahui, kita punya big data yang bagus," kata Luhut.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait