RI Panen Dana Asing Rp8 T meski Bunga The Fed Naik, Terbesar ke Saham

Modal asing masuk di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1,13 triliun dan pasar saham Rp 7,1 triliun.
Image title
18 Maret 2022, 16:51
modal asing, nilai tukar rupiah, rupiah hari ini
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah parkir di level Rp 14.340 per dolar AS di pasar spot sore ini, melemah 31 poin dari penutupan pekan lalu.

Aliran modal asing mulai masuk ke pasar keuangan domestik meski terdapat pengumuman kenaikan bunga acuan The Fed dan masih berlanjutnya perang Rusia dan Ukraina. Bank Indonesia (BI) mencatat terdapat modal asing masuk sebesar Rp 8,23 triliun selama sepekan terakhir.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, terdapat beli neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1,13 triliun dan beli neto di pasar saham Rp 7,1 triliun.

"Berdasarkan data setelmen sampai dengan 17 Maret 2022 (ytd), nonresiden jual neto Rp 23,44 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 21,31 triliun di pasar saham," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/3).

Tingkat premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun turun ke 86,77 bps per 17 Maret 2022 dari 109,25 pada pekan lalu. Kondisi ini sejalan meredanya sentimen risk off di pasar keuangan global.

Advertisement

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun stabil di level 6,71% pada hari ini, sedangkan yield obligasi pemerintah AS atau US treasury tenor 10 tahun naik ke level 2,17%.

Aliran modal masuk ke dalam negeri tak berhasil menyelamatkan rupiah dari pelemahan. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah parkir di level Rp 14.340 per dolar AS di pasar spot sore ini, melemah 31 poin dari penutupan pekan lalu.

"Dolar AS menguat terhadap nilai tukar lain sebelum rilis pengumuman hasil rapat Bank Sentral AS sebagai langkah antisipasi pelaku pasar," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (18/3).

Rupiah memang cenderung melemah di awal pekan ini menanti pertemuan pembuat kebijakan The Fed pada Kamis dini hari. Namun, Ariston menyebut sentimen itu tidak bertahan lama. Usai mengumumkan kenaikan bunga, rupiah justru menguat. 

Hal ini, menurut Ariston, terjadi karena keputusan The Fed menaikkan bunga sebesar 25 bps sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi itu yang membuat dolar AS berbalik melemah.

Selain itu, pergerakan rupiah pekan ini juga masih dibayangi ketegangan di Ukraina. Rupiah sebetulnya sempat mendapatkan angin segar karena Rusia dan Ukraina mengirim sinyal bahwa perundingan masih berlanjut pada awal pekan. Ini memberikan sinyal bahwa ada peluang untuk mendorong dilakukannya gencatan senjata.

Namun hingga akhir pekan ini, perundingan belum membuahkan hasil dan serangan Rusia ke ibukota Ukraina justru semakin gencar. Kondisi tersebut memberi sentimen negatif ke pasar.

"Harga minyak mentah kembali naik ke atas US$100 per barel dan memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan di akhir pekan," ujarnya.

Sementara dari dalam negeri, Ariston mengatakan sentimennya cenderung positif. Kondisi ini ditopang neraca perdagangan yang berhasil kembali surplus jumbo dan melebihi ekspektasi pasar. Selain itu, analisis BI bahwa ekonomi Indonesia akan pulih dan inflasi terjaga juga ikut membantu penguatan rupiah.

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully A Wisnubroto melihat rupiah ke depannya akan menghadapi sejumlah risiko pelemahan baik dari luar maupun dalam negeri. Adanya kemungkinan The Fed yang lebih agresif dalam menaikkan bunga acuannya akan mempengaruhi rupiah.

"Suku bunga sudah diekspektasikan pasar, tapi karena ada perubahan perkiraan kenaikan bunga acuan dari yang tadinya bakal naik tiga kali, menjadi tujuh kali, itu yang membuat rupiah relatif melemah," ujarnya kepada Katadata.co.id

Dari dalam negeri, meski banyak sentimen positif, tetapi risiko ke rupiah juga masih ada. Inflasi diperkirakan mulai meningkat bulan ini didorong oleh sejumlah kondisi salah satunya dari keputusan pemerintah menghapus HET untuk minyak goreng kemasan. Kenaikan harga-harga juga didorong tren lonjakan harga komoditas akibat perang.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait