Modal Asing Kabur, Neraca Pembayaran Kuartal I Defisit US$ 1,8 Miliar

Neraca pembayaran Indonesia kembali defisit akibat defisit pada transaksi modal dan finansial yang mencapai US$ 1,7 miliar meski neraca transaksi berjalan kembali surplus US$ 0,2 miliar.
Image title
20 Mei 2022, 12:10
neraca pembayaran, modal asing, neraca transaksi modal dan finansial
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Ilustrasi. BI mencatat neraca perdagangan barang surplus US$ 11,1 miliar, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 12,5 miliar.

Bank Indonesia mencatat neraca pembayaran Indonesia defisit US$ 1,8 miliar pada kuartal pertama tahun ini, membengkak dibandingkan kuartal sebelumnya US$ 0,8 miliar. Hal ini terutama terjadi karena transaksi modal dan finansial yang mencatatkan defisit US$ 1,7 miliar meski neraca transaksi berjalan kembali surplus US$ 0,2 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Erwin Haryono menjelaskan surplus transaksi berjalan pada kuartal I 2022 berlanjut sebesar 0,1% terhadap PDB meski lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 1,5 miliar atau 0,5% terhadap PDB.  Sementara itu, defisit neraca transaksi modal dan finansial yang mencapai 0,5% terhadap PDB, membengkak dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$ 2,2 miliar atau 0,7% terhadap PDB. 

"Kinerja positif  transaksi berjalan didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang kuat berkat harga ekspor komoditas yang masih tinggi, seperti batu bara dan CPO," ujar Erwin dalam siaran pers, Jumat (20/5). 

 

Advertisement

BI mencatat neraca perdagangan barang surplus US$ 11,1 miliar, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 12,5 miliar. Sementara neraca perdagangan jasa mencatatkan defisit US$ 4,4 miliar, lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya US$ 4 miliar. 

Erwin menjelaskan, peningkatan defisit neraca jasa sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi yang terus berlanjut dan kenaikan jumlah kunjungan wisatawan nasional ke luar negeri. Ini terjadi usai pelonggaran kebijakan pembatasan perjalanan antarnegara dan penyelenggaraan ibadah umrah yang kembali dibuka.

Di sisi lain, BI mencatat defisit neraca pendapatan primer turun dari US$ 8,9 miliar pada kuartal IV 2021 menjadi US$ 8 miliar pada kuartal 1 2022.  

Adapun transaksi modal dan finansial yang masih mencatatkan defisit akibat aliran keluar investasi portofolio seiring meningkatnya ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina serta rencana percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju. Investasi portofolio defisit US$ 2,9 miliar, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya US$ 5 miliar. 

Erwin juga mencatat transaksi investasi lainnya mengalami defisit yang lebih besar akibat peningkatan piutang dagang dan penempatan ke aset valas sejalan dengan masih tingginya aktivitas ekspor. Defisitnya mencapai US$ 3,4 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, membengkak dari US$ 1 miliar pada kuartal keempat tahun lalu. 

Sementara itu, investasi langsung mencatatkan aliran modal masuk mencapai US$ 4,5 miliar pada kuartal I 2022, lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 3,8 miliar. 

"Ke depan, BI senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek neraca pembayaran dan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian," kata Erwin. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait