AS di Ambang Resesi, Dampaknya ke Perdagangan dan Keuangan Indonesia

Resesi ekonomi di Amerika akan memberikan dampak ke Indonesia melalui jalur perdagangan hingga keuangan.
Abdul Azis Said
30 Juni 2022, 18:11
amerika serikat, ekonomi amerika, update me
ANTARA FOTO/REUTERS/Bryan R Smith/nz/cf
Ilustrasi. Ekonomi Amerika menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga.

Ekonomi Amerika Serikat (AS) kini diambang resesi seiring tekanan inflasi yang masih tinggi dan mendorong The Federal Reserve menaikkan bunga secara agresif. Resesi yang membayangi negara dengan ekonomi terbesar dunia ini akan turut memberikan dampak ke Indonesia melalui jalur perdagangan hingga keuangan. 

"Mengingat Amerika merupakan ekonomi utama dunia, maka jika terjadi resesi di negara tersebut, perekonomian global akan terdampak," kata Plt. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Abdurohman kepada Katadata.co.id, Kamis (30/6).

Salah satu dampak resesi AS secara langsung akan terlihat pada jalur perdagangan. Amerika merupakan salah satu tujuan utama ekspor Indonesia. Nilai ekspor ke negara tersebut pada bulan lalu berada di posisi ketiga terbesar setelah Cina dan India dengan nilai mencapai US$ 2,05 miliar atau 10,26% dari total ekspor.

Resesi ekonomi AS juga akan memberikan dampak tidak langsung di jalur perdagangan, karena memicu pelemahan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama Indonesia lainnya.

Advertisement

Selain jalur perdagangan, kondisi ekonomi Amerika juga akan mempengaruhi Indonesia melalui jalur keuangan, terutama dengan langkah The Fed menaikkan suku bunga secara agresif. The Fed pada pertemuan bulan ini menaikkan bunga hingga 75 bps dan diperkirakan mash akan menaikkan bunga 50 hingga 75 bps pada pertemuan Juli untuk meredam lonjakan inflasi. 

"Pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat dan tajam di AS juga menyebabkan naiknya biaya pinjaman (cost of fund) dan semakin ketatnya likuiditas global," kata dia.

Meski demikian, ia masih optimistis dengan kondisi ekonomi domestik. Indonesia, menurut dia, adalah salah satu negara yang paling berdaya tahan atau resilen.  Beberapa lembaga internasional juga memperkirakan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di kisaran 5% pada tahun depan.

Ia  menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu juga sudah berhasil kembali ke level sebelum pandemi saat masih banyak negara yang di bawah level normal. Kinerja ekonomi domestik di tahun ini juga terus menguat didukung membaiknya pandemi, ekspor yang kuat akibat kenaikan harga komoditas dan menguatnya permintaan domestik baik konsumsi maupun investasi.

Sejumlah analis memperingatkan ekonomi AS bisa jatuh ke jurang resesi pada tahun depan. Data terbaru, ekonomi terbesar dunia itu terkontraksi 1,6% secara tahunan pada kuartal I tahun ini. Kinerja ini juga penurunan tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih berhasil tumbuh positif 6,9%.

Kepala ekonom Bank Dunia Carmen Reinhart menyatakan skeptisismenya bahwa Amerika Serikat (AS) dan ekonomi global dapat menghindari resesi di tengah melonjaknya inflasi, kenaikan suku bunga yang tajam dan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina. Dia mengatakan bahwa secara historis, pengendalian inflasi dan pada saat yang sama merancang soft landing perekonomian merupakan tugas yang sangat berat. Risiko resesi pun menjadi semakin tak terhindarkan.

“Yang mengkhawatirkan semua orang adalah bahwa semua risiko menumpuk pada sisi negatifnya,” ujarnya seperti dikutip Reuters, Kamis (30/6).

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait