Pemerintah Minta BI Tidak Buru-buru Naikkan Suku Bunga, Ini Alasannya

Pemerintah berharap BI tak terburu-buru menaikkan suku bunga untuk mendukung ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan.
Abdul Azis Said
5 Agustus 2022, 15:03
suku bunga, pertumbuhan ekonomi,bank indonesia, pemulihan ekonomi
Humas Setkab/Rahmat
Menteri Koordinator Bidang perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, BI tidak perlu buru-buru mengerek bunga karena inflasi inti memang masih rendah di 2,86% secara tahunan pada bulan lalu.

Pemerintah berharap Bank Indonesia (BI) tidak buru-buru mengerek suku bunga acuan yang saat ini berada di level terendah sepanjang sejarah sebesar 3,5%. Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga rendah selama 16 bulan beruntun meski bank sentral lainnya sudah mulai meninggalkan era bunga murah. 

Menteri Koordinator Bidang perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, BI tidak perlu buru-buru mengerek bunga karena inflasi inti memang masih rendah di 2,86% secara tahunan pada bulan lalu. Inflasi komponen inti masih rendah sekalipun headline inflasi sudah mendekati 5%.

"Ekonomi ini masih pemulihan, jadi kami harap tidak perlu buru-buru (menaikkan bunga)," kata Airlangga dalam diskusi dengan wartawan di Jakarta, Jumat (5/8).

Di sisi lain, kondisi perbankan juga masih solid dan mumpuni terus mendorong kredit. Pertumbuhan dana pihak ketiga tercatat 9,13% pada Juni serta pertumbuhan kredit yang masih terus berlanjut. 

Advertisement

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir melihat BI perlu hati-hati melihat kondisi inflasi terkini sebelum mengerek bunga. Pasalnya, kenaikan suku bunga disiapkan sebagai senjata untuk merespon kenaikan inflasi yang berasal dari sisi permintaan. 

Ia menyebut inflasi inti saat ini masih rendah di 2,86%. Level tersebut bahkan belum mencapai titik tengah target inflasi BI pada tahun ini. Adapun inflasi  secara keseluruhan yang terjadi saat ini lebih disebabkan dari sisi suplai, terlihat dari inflasi harga pangan bergejolak yang sudah melampaui 11%.

"Betul bahwa volatile food naik sudah 11% tapi kan kenapa karena musim tanam terganggu cuaca, kemarin banyak hujan. Seperti kenaikan harga tomat, bawang merah cabe merah, cabe rawit. Masa iya yang begitu direspons (dengan kenaikan suku bunga), enggak pas lah," kata Iskandar dalam acara yang sama dengan Airlangga.

Ia melihat kenaikan suku bunga di kondisi seperti saat ini justru tidak akan efektif ketika inflasi inti memang masih rendah. Menurut dia, kenaikan inflasi saat ini menjadi bagian pemerintah untuk menangani gangguan dari sisi supply, sementara BI bersiap jika terjadi kenaikan inflasi dari sisi permintaan.

Untuk merespons dari sisi suplai, pemerintah antara lain telah menambah anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp 502,4 triliun tahun ini. Langkah ini diambil agar kenaikan harga-harga tidak diteruskan ke tingkat konsumen, khususnya untuk komoditas yang tergolong administered prices. Dengan harga yang terjaga diharap bisa menjaga daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi berlanjut.

"Kami sudah berkorban dengan subsidi untuk menahan harga, jangan jadi bebannya dua kali, masa sudah bebannya di fiskal ditambah lagi beban moneter, pasti ekonominya squeezing, itu strategi yang dilakukan Indonesia," kata Iskandar.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam komentarnya pada pertemuan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) awal pekan ini juga menyebut pertumbuhan ekonomi memang semakin kuat tetapi dinilai belum benar-benar pulih. Karenanya, masih perlu dukungan agar pemulihan berlanjut. Komentar tersebut memberi sinyal kuat BI tidak akan buru-buru mengerek suku bunganya.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait