Sri Mulyani Waspadai Dampak Buruk Era Suku Bunga Tinggi Tahun Depan

Abdul Azis Said
2 Desember 2022, 11:33
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja Pemerintah dengan Banggar DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/9/2022). Dalam rapat tersebut membahas postur sementara RUU APBN TA 2023.
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU
Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat tren suku bunga tinggi itu juga bisa bertahan lama sepanjang tahun depan atau higher for longer.

Era suku bunga tinggi menjadi risiko yang membayangi perekonomian Indonesia pada tahun depan. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan suku bunga tinggi beresiko menekan pertumbuhan investasi domestik yang sebetulnya menunjukan tren perbaikan tahun ini

"Karena kemarin pada kuartal tiga kemarin investasi tumbu 4,9%, dekat sekali dengan 5%. Kalau investasi tahun depan bisa tumbuh 5%, kami punya harapan resiliensi ekonomi Indonesia akibat suku bunga tinggi ini bisa kami jaga. Saya akan lebih bertanya pada para CEO di sini, anda percaya nggak untuk tetap ekspansi sehingga pertumbuhan investasi tetap di atas 5%," kata Sri Mulyani dalam acara Kompas100 CEO Forum 2022, Jumat (2/12).

Bendahara negara itu melihat tren kenaikan suku bunga global berpotensi berlanjut setidaknya hingga pertengahan tahun depan. Kenaikan tersebut ditempuh banyak negara untuk mengendalikan inflasi agar tidak liar di tengah kenaikan harga pangan dan energi.

Sri Mulyani juga melihat tren suku bunga tinggi itu juga bisa bertahan lama sepanjang tahun depan atau higher for longer. Ini artinya suku bunga dinaikkan terus tetapi belum ada rencana dari bank-bank sentral dunia untuk memangkas setidaknya pada tahun depan.

Sejumlah pejabat bank sentral AS, The Fed telah menyuarakan terkait kondisi tersebut. Bank Indonesia sebelumnya juga menyampaikan tren suku bunga higher for longer ini akan menjadi salah satu tantangan global tahun depan.

"Artinya, dampak ekonomi di negara maju mungkin akan terasa sepanjang 2023, dampaknya ke ekonomi kita tentu akan ada capital outflow, jadi pemegang SBN non residen keluar dari Indonesia, yang artinya imbal hasil atau yieldnya jjuga akna naik," kata Sri Mulyani.

Kenaikan suku bunga di level global yang memicu capital outflow dan tekanan nilai tukar memerlukan respons dari bank sentral di dalam negeri. Oleh karena itu, Sri Mulyani tidak heran jika BI kemudian terpaksa juga harus ikut menaikan suku bunga acuannya.

Setelah serangkaian kenaikan bunga acuan di AS, BI mengerek suku bunga untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir pada Agustus. Kenaikan 25 bps saat itu kemudian diikuti dengan kenaikan yang lebih besar 50 bps selama tiga pertemuan terakhir.

"Dampaknya ke ekonomi tahun depan, seberapa resilien investasi kita tetap bisa bertahan dalam kondisi kecendeurngan suku bunga akan lebih tinggi dari tahun ini, itu yang harus dilihat," kata dia.

Sri Mulyani menyebut dampak dari suku bunga tinggi ke investasi tahun depan akan terlihat dari kinerja pertumbuhan kredit perbankan. Efek suku bunga tinggi ini juga akan mempengaruhi investasi di pasar keuangan, terutama ketersediaan modal dan investasi ke perusahaan-perusahaan yang akan melantai perdana di bursa saham (IPO) tahun depan.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait