Kemenkeu Ramal Defisit Anggaran Tahun Ini Hanya 2,8% PDB

Andi M. Arief
8 Desember 2022, 20:55
defisit anggaran, defisit APBD, silpa
Youtube/DPR RI
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan defisit hingga akhir Desember 2022 akan lebih baik dari prediksi awal.

Kementerian Keuangan memperkirakan defisit anggaran tahun ini hanya mencapai 2,8% terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB. Angka ini jauh dibawah target APBN 2022 yang telah direvisi dalam Perpres No 98 Tahun 2022 sebesar 4,5% terhadap PDB.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan defisit hingga akhir Desember 2022 akan lebih baik dari prediksi awal. Ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di tahun ini. 

"Kami  cukup yakin defisit anggaran di bawah 3%, sehingga itu akan menjadi modal tentunya bagi kami untuk tahun depan," kata Febrio di Kompleks Kantor DPR, Kamis (8/12).

Pemerintah mematok defisit anggaran dalam perubahan APBN 2022 sebesar 4,5% terhadap PDB. Namun belakangan, Kemenkeu sempat memperkirakan realisasinya lebih rendah yakni mencapai 3,92%. 

Kementerian KeuanganKementerian Keuangan mencatat APBN hingga Oktober 2022 defisit Rp 169,5 triliun atau 0,91% terhadap PDB, berbalik dibandingkan bulan sebelumnya yang masih surplus Rp 60,9 triliun. Defisit terjadi seiring belanja negara yang mencapai Rp 2.351,1 triliun, lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara Rp 2.181,6 triliun. 

Adapun pendapatan negara sebenarnya melesat 44,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasinya sudah mencapai 96,27% dari target dalam Perpres 98 Tahun 2022 yang merupakan perubahan APBN 2022. 

Pertumbuhan belanja negara memang lebih rendah secara tahunan dibandingkan pendapatan negara. Namun, kenaikannya secara bulanan lebih cepat, sehingga APBN berbalik dari surplus pada September 2022 menjadi defisit pada bulan lalu. Realisasi belanja negara bertambah Rp 437,2 triliun dalam satu bulan terakhir, sedangkan pendapatan negara bertambah Rp 206,9 triliun. 

Kemenkeu mencatat seluruh komponen penerimaan negara tumbuh tinggi. Penerimaan perpajakan melesat 49,3% menjadi Rp 1.704,5 triliun, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) naik 34,4% menjadi Rp 476,5 triliun. Penerimaan perpajakan terutama didorong oleh ppenerimaan pajak yang tumbuh 51,8% menjadi Rp 1.448,2 triliun, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai naik 24,6% menjadi Rp 256,3 triliun. 

Sementara itu, realiasi belanja negara didorong oleh belanja pemerintah yang tumbuh 18% menjadi Rp 1.671,9 triliun dan transfer keuangan daerah yang tumbuh 5,7% menjadi Rp 679,2 triliun. Pada komponen belanja pemerintah pusat, belanja non-Kementerian/Lembaga (K/L) melesat 57,4% secara tahunan mencapai Rp 917,7 triliun, sedangkan belanja K/L terkontraksi 9,5% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 754,1 triliun. 

Pertumbuhan Ekonomi 5,2%

Febrio memperkirakan, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini akan mencapai 5,2%. Menurut dia, ekonomi pada kuartal keempat tak akan setinggi kuartal lalu karena basis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2021 yang cukup tinggi. 

Ia pun memperkirakan ekonomi pada Oktober-Desember 2022 hanya dapat mencapai 5% secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal III 2022 yang diperkirakan mencapai 5,72%. 

Kementerian Keuangan sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan akan lebih lemah dibandingkan tahun ini akibat sejumlah tantangan global. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan menyebut target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2023 sebesar 5,3% sangat ambisius jika melihat kondisi global saat ini. Meski demikian, pemerintah belum berencana merombak asumsi-asumsi dalam APBN 2023.

 

 

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait