Daftar 5 Masalah yang Akan Memicu Gejolak Ekonomi Global Tahun Depan

Agustiyanti
14 Desember 2022, 15:46
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, BI, ekonomi dunia, ekonomi global
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperingatkan kondisi dunia akan lebih suram pada tahun depan.

Perekonomian global masih akan menghadapi gejolak perekonomian pada tahun depan. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut, ada lima permasalahan yang menjadi pemicunya. 

"Kelima permasalahan ini memang sebagai dampak dari berlanjutnya perang Rusia dan Ukraina, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, maupun masih terganggunya mata rantai pasokan global," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo  dalam Seminar Nasional Outlook Perekonomian Jakarta 2023 yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu.

Berikut lima permasalahan yang akan dihadapi dunia:

  1. Perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko resesi
    Bank Indonesia dalam perkiraan terbarunya meramal ekonomi dunia pada tahun depan hanya akan tumbuh 2,6%, turun dibandingkan perkiraan sebelumnya 3%. Dalam skenario terburuk BI, pertumbuhan ekonomi dunia bahkan hanya akan mencapai 2%. 

    Bukan hanya perlambatan, menurut Perry, ada risiko resesi di sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat dan Eropa.

  2. Inflasi global yang masih tinggi

    Perry memperkirakan,  inflasi global masih akan  tinggi pada tahun depan karena harga energi dan pangan global kemungkinan masih tinggi.

  3. Suku bunga tinggi dalam waktu yang lama

    Menurut Perry, suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed) berpotensi mencapai 5% pada tahun depan. Kenaikan bunga akan dilakukan The Fed untuk terus merespons inflasi. Perry pun melihat suku bunga kemungkinan akan tetap tinggi selama tahun 2023.

  4. Menguatnya dolar AS
    Dolar AS yang menguat akan menimbulkan tekanan atau depresiasi terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.
    BI mencatat,  nilai tukar rupiah hingga 16 November 2022 terdepresiasi 8,65% dibandingkan dengan level akhir 2021 atau year to date.
  5. Fenomena uang tunai lebih berharga atau cash is the king
    Menurut Perry, oara investor global berpotensi menarik dananya dari emerging market atau negara pasar berkembang dan memindahkannya ke aset-aset likuid. Ini dilakukan untuk menghindari risiko yang berpotensi meningkat pada tahun depan. 

 


.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait