Kenaikan Tarif PAM hingga harga Beras Picu Inflasi Desember 0,66%

Abdul Azis Said
2 Januari 2023, 11:55
inflasi, tarif pam, harga beras
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym.
Kenaikan harga beras menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Desember 2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai indeks harga konsumen (IHK) mengalami inflasi bulanan sebesar 0,66% pada Desember 2022. Inflasi bulan lalu disumbangkan oleh kenaikan tarif air minum PAM, harga beras, hingga kontrakan rumah. 

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, inflasi tahun kalender atau tahunan sepanjang 2022 mencapai 5,5%. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kotabaru di Kalimantan mencapai 8,65% dan Baubau di Sulawesi mencapai 8,35%. 

"Penyumbang utama inflasi secara bulanan, di antaranya beras dan tarif minum PAM dengan andil masing-masing 0,07%," ujar Margo dalam konferensi pers, Senin (2/1). 

Ia menjelaskan, inflasi juga disumbangkan oleh telur ayam ras dengan andil 0,06%, kenaikan sewa kontrakan rumah 005%, serta harga daging ayam ras dan tomat masing-masing 004%. Kenaikan tarif air minum PAM hanya terjadi di satu kota, yakni Bandung, sedangkan kenaikan tarif beras terjadi di 79 kota. 

"Inflasi Desember merupakan inflasi musiman, karena ada peningkatan permintaan akibat liburan sekolah dan perayaan Natal dan Tahun Baru," ujarnya.  

Ia menjelaskan, sebelum pandemi atau Desember 2019 terjadi inflasi bulanan 0,34%, sedangkan pada Desember 2020 dan 2021 terjadi inflasi 0,45% dan 0,57%. Inflasi Desember 2023 merupakan yang tertinggi.

BPS mencatat hampir seluruh kelompok harga menyumbangkan inflasi pada bulan lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Harga makanan mengalami inflasi 0,66% dengan andil 0,66%. Perumahan air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mencatatkan inflasi 0,63% dengan andil 0,12%, disusul transportasi yang mencatatkan inflasi 0,45% dengan andil 0,12%. 

Kelompok komunikasi, informasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya  penyumbang deflasi mencapai 0,06% dengan andil 0,00%. 

Margo menjelaskan, inflasi sepanjang tahun lalu terpengaruh oleh beberapa peristiwa. Pengendalian Covid-19 pada tahun lalu yang lebih terkendali menyebabkan peningkatan permintaan sehingga menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dan suplai sehingga mendorong inflasi. 

"Pada 2022, ada perang dan ketegangan politik di sejumlah wilayah, ini memicu disrupsi rantai pasok pangan dan energi" ujarnya. 

Ia mengatakan, inflasi tinggi juga terjadi di berbagai negara. Sejumlah bank sentral memutuskan untuk mengetatkan keuangan akibat inflasi tinggi  dengan menaikkan suku bunga. 

Sementara di dalam negeri, menurut dia, inflasi dipengaruhi oleh kelangkaan minyak goreng, kenaikan harga avtur dan transportasi udara, anomali cuaca, kegagalan panen beberapa negara, harga BBM, hingga permintaan yang naik. 

Advertisement

 

Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait