Inflasi 2022 Rekor Tertinggi dalam Delapan Tahun, Melandai Tahun InI

Abdul Azis Said
2 Januari 2023, 14:18
inflasi, harga pangan, kenaikan harga, harga barang dan jasa
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Ilustrasi. Inflasi sepanjang 2022 mencapai 5,5%.

Kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri mencapai rekor tertingginya dalam delapan tahun terakhir pada akhir 2022. Ekonom melihat tekanan inflasi masih akan tinggi pada paruh pertama tahun ini, tetapi mulai mereda menjelang akhir tahun.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada akhir 2022 mencapai 5,51%, tertinggi sejak 2014 sebesar 8,36%. Inflasi melonjak ke atas 5%, terutama sejak September saat pemerintah pertama kali mengumumkan kenaikan harga BBM. Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan survei Reuters yang memperkirakan 5,39%  maupun ramalan Bank Indonesia sebesar 5,4%.

"Komoditas penyumbang inflasi tertinggi secara tahunan adalah bensin, kemudian bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, diikuti beras, rokok kretek filter, telur ayam ras dan kontrak rumah," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (2/1).

Berdasarkan kelompok barang, inflasi tertinggi pada tahun lalu terjadi pada transportasi sebesar 15,26%, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 5,91%, makanan, minuman dan tembakau 5,83%, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 4,86% serta penyediaan mamin atau restoran 4,49%. Sebaliknya, satu kelompok barang, yakni informasi komunikasi dan jasa keuangan mencatatkan deflasi 0,36%.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz melihat keputusan pemerintah mencabut kebijakan PPKM bisa mendorong inflasi pada tahun depan. Pencabutan PPKM akan mendorong penguatan kegiatan ekonomi.

"Ketika permintaan domestik meningkat, produsen akan terus membebankan biaya input dengan menyesuaikan harga output," kata Irman dalam catatannya setelah rilis data BPS.

Bank Danamon memperkirakan, inflasi akan mencapai puncaknya pada akhir kuartal pertama tahun depan. Namun, inflasi akan melambat menjadi 4,5% pada akhir tahun 2023. Ini artinya inflasi masih akan di atas target bank sentral 2%-4%.

Kantor Kepala Ekonom (OCE) Bank Mandiri melihat realisasi inflasi pada 2022 lebih rendah dari perkiraan awal 6,27%. Ini karena upaya pemerintah menjaga pasokan pangan dan mengendalikan harga pangan.

Inflasi diperkirakan turun ke bawah 4% pada paruh kedua tahun ini. Meski demikian, inflasi relatif masih akan tinggi sepanjang semester pertama tahun depan, antara 4%-6% karena efek low-base effect dimana inflasi masih relatif rendah pada paruh pertama tahun lalu. Di samping itu, efek putaran kedua dari kenaikan harga BBM juga kemungkinan mereda pada paruh kedua.

"Karena realisasi inflasi umum 2022 lebih rendah dari perkiraan awal kami (6,27%), kami merevisi turun perkiraan inflasi 2023 dari 4,02% menjadi sekitar 3,60%," kata Ekonom di Kantor Kepala Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman dalam catatannya.

Bank Indonesia menargetkan inflasi akan turun di bawah 4% pada akhir tahun ini. Sementara inflasi inti, yang tidak menghitung kenaikan harga energi dan pangan, ditargetkan kembali ke bawah 4% pada paruh pertama tahun ini.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait