Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Lebih Didukung Otot Ketimbang Otak

Abdul Azis Said
5 Januari 2023, 18:38
faisal basri, ekonomi indonesia
Agung Samosir|KATADATA
Ekonom Faisal Basri menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2000-2020 mayoritas ditopang modal yang berbasis non-IT.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih banyak didukung faktor-faktor nonproduktif atau yang disebut ekonom senior INDEF Faisal Basri sebagai pertumbuhan yang bertumpu pada otot. Hal ini yang menjadi alasan perekonomian Indonesia terus tumbuh melambat. 

Indikasi bahwa ekonomi Indonesia lebih ditopang oleh otot ketimbang otak terlihat dari kontribusi total factor productivity (TFP) dalam perekonomian yang rendah dibandingkan banyak negara lain. TFP menjadi indiaktor ini dipakai untuk mencerminkan tingkat produktivitas suatu negara dan kemajuan teknologi. 

"Kalau dilihat sejak 2010, makin terlihat TFP Indonesia terus turun bebas. Jadi, penggunaan otot semakin dominan," kata Faisal dalam diskusi daring, Kamis (5/1).

Dalam paparannya, ia menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2000-2020 rata-rata 71% ditopang modal yang berbasis non-IT. Sumbangan dari tenaga kerja mencapai 45%, sedangkan sumbangan modal yang berbasis IT hanya 4%, Sementara itu, kontribusi TFP terhadap pertumbuhan justru minus 19%.

Indonesia termasuk sedikit negara di kawasan yang sumbangan TFP ke dalam pertumbuhan ekonominya paling rendah, selain Myanmar, Brunei Darussalam dan Fiji. Beberapa negara lain di kawasan, Thailand misalnya, sumbangan modal non-IT relatif rendah, sedangkan kontribusi dari TFP sebesar 19%.

"Semakin banyak pakai komponen otak (TFP), semakin kencang pertumbuhan ekonomi, semakin banyak pakai otot perkembangannya akan melambat terus," kata Faisal. 

Produktivitas yang dihitung dalam TFP dibentuk dari tiga faktor, yakni teknologi dan inovasi, pasar dan ekonomi serta masyarakat budaya. TFP semakin tinggi jika teknologi dan inovasi yang dilakukan di suatu negara semakin meningkat.

Bukannya terus naik, pertumbuhan TFP Indonesia terus melemah. Pada periode 2005-2010, rata-rata pertumbuhan TFP Indonesia masih positif dan berada di atas Kamboja dan Vietnam. Rata-rata pertumbuhan TFP pada 2015-2020 mendekati minus 3%, terendah di antara negara Asia Tenggara lainnya, bahkan dibandingkan Kamboja dan Vietnam yang sudah tumbuh positif.

Hilirisasi, menurut Faisal, menjadi kunci bagi Indonesia untuk beralih dari faktor-faktor yang sifatnya otot ke otak. Meski demikian, ia memberikan catatan, hilirisasi perlu dilakukan dengan terlebih dahulu memperbaiki dari sisi regulator. 

"Institusinya diperkuat dulu, maka kemudian terjadinya value creation, dari otot ke otak, faktor otot ini termasuk juga kekuasaan," kata Faisal.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh kuat hingga sekitar 10% pada akhir abad 20, mulai turun ke kisaran 5% memasuki awal 2000-an. Pertumbuhan sempat bangkit ke atas 5% setelah krisis keuangan 2008 tetapi kembali stabil di kisaran 5% sejak 2014. Perekonomian Indonesia kemudian terkontraksi dalam pada 2020 saat pandemi muncul, tetapi mulai berangsur pulih.

 

 

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait