Tren Rupiah Menguat, BI Sebut Masih Butuh Kerja Keras

Abdul Azis Said
25 Januari 2023, 18:35
rupiah, rupiah menguat, rupiah hari ini
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (3/1/2023). Rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp15.601 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.573 per dolar AS akibat dipicu kekhawatiran Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kurs rupiah menguat hingga berada di bawah Rp 15.000 per dolar AS pada pekan ini. Meski demikian, Bank Indonesia melihat masih perlu kerja keras untuk menjaga nilai tukar. 

 

"Indeks dolar AS, ada kecenderungan penguatan nya mulai berkurang. Namun, indeks dolar masih di atas 100, jadi kami masih empot-empotan, karena memang tugas BI untuk itu," kata Gubernur BI Perry Wariyo dalam seminar Infobank, Rabu (25/1).

Nilai tukar rupiah mencatat tren penguatan selama dua pekan terakhir meski beberapa kali masih berbalik melemah. Kurs garuda bahkan diperdagangkan di bawah level 15.000 selama dua hari terakhir meskipun kembali mencatatkan pelemahan pada sore ini dengan ditutup di level Rp 14.965 per dolar AS.

Perry menyebut, rupiah secara fundamental memang akan menguat pada tahun ini. Faktor pendukungnya karena neraca perdagangan yang masih terus surplus mendukung kinerja positif neraca transaksi berjalan, inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi tinggi.

"Itu yang membuat fundamental yield differential-nya menarik, masalah waktu, dan waktunya sekarang mulai datang, itulah kenapa rupiah sudah di bawah Rp 15.000 per dolar AS," kata Perry.

Ia mengatakan, penguatan rupiah belakangan ini tidak lepas dari upaya bank sentral 'jor-joran' mengintervensi rupiah sepanjang tahun lalu. Namun, menurutnya, langkah tersebut memang sudah menjadi mandat bank sentral menjaga nilai tukar.

Rupiah menguat dalam beberapa hari terakhir di tengah sentimen risk on pasar global. Aliran masuk modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik mencapai Rp 36,33 triliun sejak awal tahun hingga 19 Januari 2022.

Minat asing ke pasar aset berisiko meningkat seiring menguatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed tidak akan lagi agresif mengerek suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang. Berdasarkan alat pemantauan CME Group FedWatch Tool, mayoritas pasar memperkirakan suku bunga hanya naik 25 bps. Ini mengindikasikan The Fed semakin dekat dengan babak akhir kenaikan suku bunganya setelah kenaikan bunga agresif 75 bps selama beberapa pertemuan beruntun pada tahun lalu.

Rencana pemerintah Indonesia merevisi aturan soal devisa hasil ekspor (DHE) juga sempat mendukung penguatan rupiah pekan lalu. Pemerintah akan menambah sektor usaha yang wajib repatriasi DHE dan dengan batasan waktu tertentu. Kebijakan ini akan membantu pasokan valas domestik. elonggaran kebijakan zero Covid-19 di Cina juga masih menjaid sentimen positif ke aset berisiko.

 

Advertisement
Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait