Target Pertumbuhan Ekonomi Meleset, Istana Salahkan Harga Komoditas

Meski volume ekspor 2019 naik 9,82%, namun nilainya turun 6,94% dari US$ 190,01 miliar menjadi US$ 167,53 miliar
Dimas Jarot Bayu
10 Februari 2020, 17:51
ekspor, harga komoditas, pertumbuhan ekonomi, istana
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/1/2020). Staf Khusus Presiden yakni Arif Budimanta beralasan pertumbuhan ekonomi 5,02% karena turunnya nilai ekspor akibat harga komoditas yang belum membaik.

Istana Kepresidenan membantah bahwa lambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 karena masalah kemudahan berusaha. Mereka beralasan, melambatnya pertumbuhan ekonomi dari 5,17% tahun 2018 menjadi 5,02% karena turunnya nilai ekspor akibat harga komoditas yang belum membaik.

Target tumbuhnya ekonomi tahun lalu memang di bawah sasaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni 5,3%. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengatakan penurunan nilai ekspor ini terjadi karena adanya kontraksi terhadap harga komoditas yang cukup dalam. 

Arif menjelaskan volume ekspor pada 2019 memang mengalami kenaikan sebesar 9,82%. Hanya saja, nilai ekspor tersebut mengalami penurunan sebesar 6,94% dari US$ 190,01 miliar menjadi US$ 167,53 miliar.

Salah satu contohnya, harga batu bara yang mengalami penurunan sebesar 27%.  "Atau (harga) CPO (minyak sawit mentah) yang turun year on year-nya," kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/2).

Advertisement

(Baca: Target Pertumbuhan Ekonomi Meleset, KSP: Pemerintah Bukan Ingkar Janji)

Tak hanya di sektor non-migas, penurunan tersebut juga terjadi di sektor migas. Arif mengatakan, harga minyak mentah Indonesia (ICP) mengalami penurunan sebesar 8% pada tahun lalu. 

Pemerintah sebelumnya memperkirakan ICP sebesar US$ 70 per barel, namun ramalan tersebut meleset. "Hanya, US$ 62-63 per barel. Ini yang sebabkan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi kita," kata dia.



Sedangkan terkait impor, Arif menyatakan pemerintah masih dapat mengendalikan hal tersebut. Bahkan, pemerintah telah berhasil menurunkan nilai impor migas Indonesia pada tahun lalu. 

Dia menjelaskan lebih dari 70% impor Indonesia saat ini terdiri dari produk bahan baku penolong. Atas dasar itu, Arif menyebut Jokowi selalu meminta adanya kemudahan berusaha dan investasi. 

Menurut Arif, arahan Jokowi tersebut tak hanya bertujuan menghasilkan devisa, namun juga mendorong substitusi produk impor. "Kemudian (menciptakan) lapangan kerja yang banyak," kata Arif.

(Baca: Ekonomi RI Tahun Lalu Tumbuh Terendah Sejak 2015, Berikut Faktornya)

Jokowi sebelumnya menilai realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2019 sebesar 5,02% patut disyukuri. Padahal, pertumbuhan ekonmomi tersebut melambat dibanding 2018 sebesar 5,17% dan terendah sejak 2015.  “Alhamdulillah, patut kita syukuri bahwa pertumbuhan ekonomi masih di atas 5%,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2).

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 masih berada di atas negara-negara lain, bahkan tertinggi kedua di antara negara-negara G20. Adapun pertumbuhan ekonomi tertinggi masih ditempati oleh Tiongkok yang mencapai 6,1%, meski pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah dalam hampir 30 tahun terakhir. 

Pertumbuhan ekonomi India yang sebelumnya berada di atas Indonesia anjlok cukup dalam. IMF bahkan memproyeksi ekonomi Negeri Bollywood tersebut hanya akan tumbuh 4,8% pada 2019. Sementara pada kuartal II 2019, ekonomi India anjlok dari 8% pada kuartal II 2018 menjadi 5%. “Yang lain-lain bukan hanya turun tetapi anjlok,” kata Jokowi.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait