Sudah Siap, Pertamina Ingin Segera Teken Kontrak Blok East Natuna

Tantangan pengembangan gas di blok tersebut adalah kandungan karbondioksida (CO2) yang cukup besar yakni 72%
Image title
8 Januari 2020, 20:52
east natuna, pertamina, blok migas
Pertamina Hulu Energi
ilustrasi fasilitas migas lepas pantai. Pertamina menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan penugasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam pengelolaan Blok East Natuna.

Pertamina menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan penugasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam pengelolaan Blok East Natuna. Perusahaan migas pelat merah ini juga berharap dapat menandatangani kontrak blok tersebut dalam waktu dekat.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu mengatakan persiapan telah dilakukan pihaknya agar dapat mengelola blok ini. Pengembangan Blok East Natuna ini dilakukan Pertamina demi meningkatkan produksi migas.

"Langkah selanjutnya adalah penandatanganan PSC yang harapannya dapat dilakukan dalam waktu dekat," ujar Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu kepada Katadata.co.id, Rabu (8/1).

(Baca: Pertamina Cari Cara Kembangkan Blok East Natuna )

Advertisement

Dharmawan mengatakan tantangan pengembangan gas di blok tersebut adalah kandungan karbondioksida (CO2) yang cukup besar yakni 72%. Namun ia menjelaskan hal itu bisa diatasi karena Pertamina akan mengembangkan teknologi pemisahan CO2.

Meski begitu, Dharmawan belum bisa membeberkan mengenai angka potensi minyak di lapangan tersebut karena saat ini masih dalam tahap studi. “Tidak tertutup kemungkinan potensi minyak harus divalidasi dengan kegiatan lebih lanjut, yaitu seismik dan pengeboran," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyatakan Blok East Natuna memiliki potensi cadangan 46 triliun kaki kubik.

Namun, pengembangan blok tersebut terhambat karena teknologi dan biaya yang cukup tinggi.  Oleh karena itu, SKK Migas terus berupaya mencari investor untuk mengembangkan Blok East Natuna. 

(Baca: Mahfud Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan Tiongkok Soal Natuna)

Selain itu, pemerintah tengah mengkaji beberapa insentif untuk pengembangan Blok East Natuna. Sebab, blok itu belum juga berproduksi kendati sudah ditemukan sejak 1973. Salah satu insentif yang dikaji pemerintah yaitu keringanan pajak atau tax holiday selama lima tahun.

Selain itu, ada insentif kontrak yang lebih lama hingga 50 tahun. Ada juga insentif berupa bagi hasil yang lebih besar untuk kontraktor. Bahkan ada skenario bagi hasil migas blok tersebut bakal diberikan 100% kepada kontraktor.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait