Pacu Pariwisata, Pengusaha Hotel Minta Pemerintah Benahi Maskapai

Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia menilai mahalnya tiket pesawat membuat turis asing dan lokal enggan berwisata.
Image title
Oleh Rizky Alika
11 Desember 2019, 10:22
pengusaha hotel, maskapai, okupansi hotel
ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Pantai Kuta Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (3/12/2019). Pengusaha hotel dan restoran berharap pemerintah membenahi sektor penerbangan untuk menunjang kenaikan target okupansi hotel 2020.

Pengusaha berharap pemerintah membenahi sektor penerbangan untuk menunjang pariwisata. Dengan perbaikan ini, industri perhotelan menargetkan rata-rata okupansi hotel menjadi 55 % tahun depan, naik dari 52-53 % tahun ini.

Ketua Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan Kementerian Perhubungan bisa membantu dengan mengatur alokasi penerbangan ke kawasan wisata. Selain itu pemerintah bisa mengajak maskapai lain masuk guna mewujudkan tarif dan bisnis penerbangan kompetitif.

“Dengan bisnis maskapai yang sehat, domestic leisure-nya naik,” kata Hariyadi di kantornya, Jakarta, Selasa (12/10).

(Baca: Pengusaha Hotel Luapkan Kekesalan pada Mantan Dirut Garuda)

Hariyadi mengatakan mahalnya tiket pesawat tak hanya membuat wisatawan lokal enggan berwisata, juga turis mancanegara. Apalagi wisatawan terutama dari Eropa biasanya pergi ke beberapa titik dalam satu perjalanan wisata.

Selain itu, semakin banyaknya hotel yang dijalankan lewat operator virtual jadi salah satu penyebab target okupansi penginapan naik. Beberapa aplikasi operator hotel antara lain AirBnB, Airy, hingga Agoda. “Semakin banyak, terutama dari virtual operator dan sharing economy,” kata Hariyadi.

Dia juga berharap pemerintah dapat menghidupkan kembali Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) yang sudah tidak aktif lima tahun terakhir. Bahkan ia meminta BPPI dapat ditingkatkan statusnya menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Dengan target kedatangan wisatawan mancanegara tahun depan bertambah menjadi jadi 16,5 juta, BPPI dapat membantu promosi wisata Indonesia ke negara yang banyak disambangi turis asing seperti Thailand. “Agar ada penerbangan langsung, misalnya, Bangkok-Yogyakarta atau Bangkok ke Medan,” ujar dia.

(Baca: Banyak Pendapatan Pemda Hilang, Valuasi Ekonomi Labuan Bajo Rp 2,3 T)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat okupansi hotel pada Agustus, September, dan Oktober 2019 hanya 54,14 %, 53,52 %, dan 56,77 %. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yaitu Agustus sebesar 60,01 %, September 58,95 %, dan Oktober 58,84 %.

Padahal, di awal tahun kondisinya tergolong baik dibandingkan jumlah kedatangan turis asing. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang secara nasional sepanjang April 2019 meningkat meskipun kunjungan wisatawan mancanegara menurun.

Perhatikan grafik pada Databoks berkut ini:

 

Reporter: Rizky Alika

Video Pilihan

Artikel Terkait