Tekan Harga, Inaplas Dukung Jokowi Bangun Industri Dekat Sumur Gas

Inaplas mengatakan Harga gas yang harus dibayar saat ini bisa mencapai US$ 9-US$ 11 per mmbtu. Padahal, harga gas di hulu sekitar US$ 5 per mmbtu.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
5 November 2019, 18:17
industri, harga gas, Jokowi, sumur gas
Instalasi jaringan gas yang disalurkan ke pabrik vulkanisir ban di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (3/10/2019). Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendukung wacana Presiden Joko Widodo atau Jokowi membangun kawasan industri di dekat sumur gas. Wakil Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso mengatakan, wacana tersebut dapat mendorong efisiensi dan menumbuhkan industri petrokimia.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendukung wacana Presiden Joko Widodo atau Jokowi membangun kawasan industri di dekat sumur gas. Wakil Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso mengatakan, wacana tersebut dapat mendorong efisiensi biaya produksi dan menumbuhkan industri petrokimia.

Suhat mengatakan, industri petrokimia masih belum efisien karena harga gas yang harus dibayar cukup mahal. Harga gas yang harus dibayar saat ini bisa mencapai US$ 9-US$ 11 per Million British Thermal Unit (mmbtu), padahal harga gas di hulu sekitar US$ 5 per mmbtu. Sedangkan 70% bahan baku untuk produksi industri petrokimia merupakan gas.

“Kami perlu beberapa sumber gas untuk bahan baku,” kata Suhat di Jakarta, Selasa (5/11).

(Baca: Jokowi Berencana Bangun Kawasan Industri di Dekat Sumur Gas)

Suhat mengatakan industri petrokimia lokal hanya memproduksi 40%-50% kebutuhan dalam negeri. Sisanya masih dipasok melalui impor dari luar negeri. Dia mengatakan kawasan baru industri tersebut bisa berlokasi di Papua yang mengandung potensi gas untuk industri petrokimia. "Ini untuk industri baru. Jadi yang lama tetap jalan," ucap dia.

Rencana membangun kawasan industri dekat sumur gas ini disampaikan Jokowi menyikapi tingginya harga gas. Dari informasi yang diperoleh Presiden, pasokan gas yang ada di Dumai, Sakakemang, Bojonegoro, dan Natuna dikirim ke luar negeri. Padahal, hasil produksi dari berbagai sumur gas tersebut cukup besar.

Makanya Jokowi memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengkaji pasokan yang ada untuk dialokasikan ke industri terdekat. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri bahan kimia kuartal III 2019 tumbuh minus 0,04% dari periode yang sama tahun lalu. “Supaya bisa digunakan untuk kepentingan industri dalam negeri agar lebih efisien,” katanya.

(Baca: Jokowi Memastikan Harga Gas Industri Tak Akan Naik)

Produksi dan konsumsi gas Indonesia menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Menurut data British Petroleum (BP), pada 1970 produksi gas domestik hanya 1,1 Million Tonnes oil equivalent/MToe (juta ton setara minyak). Sedangkan konsumsi gas mencapai 1,08 MToe.

Sejak 1977, produksi gas menunjukkan tren kenaikan seiring meningkatnya eksplorasi ladang migas. Pada 2018, produksi gas alam nasional naik 0,4% menjadi 62,9 MToe atau setara 73,2 Billion cubic metres (Bcm) dari tahun sebelumnya. Sedangkan konsumsi gas meningkat 1,1% menjadi 33,5 MToe atau setara 39 Bcm.

 

 

 

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Video Pilihan

Artikel Terkait