Dipicu Penurunan Pasokan di AS, Harga Minyak Naik ke US$ 61,6

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent naik 50 sen ke angka US$ 61,67 per barel.
Image title
25 Oktober 2019, 09:45
Harga Minyak, AS, OPEC.
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada perdagangan pada hari Jumat (25/10) WIB. Kenaikan dipicu oleh menurunnya persedian minyak mentah Amerika Serikat (AS). Selain itu, rencana organisasi negara penghasil minyak (OPEC) juga mengerek harga.

 Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada perdagangan pada hari Jumat (25/10) WIB. Kenaikan dipicu oleh menurunnya persedian minyak mentah Amerika Serikat (AS). Selain itu, rencana organisasi negara penghasil minyak (OPEC) juga mengerek harga.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent naik 50 sen ke angka US$ 61,67 per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate bertahan di level US$ 56,23 per barel.

Penguatan harga juga didorong laporan kemungkinan adanya badai tropis di wilayah Teluk Meksiko. “Pelemahan harga minyak mentah musiman akan berakhir,” kata Analis Commerzbank Carsten Fritsch dilansir dari Reuters, Jumat (25/10).

(Baca: Sempat Terkerek Karena Stok AS, Harga Minyak Kembali Anjlok)

Energy Information Administration (EIA) menyatakan stok minyak mentah AS turun 1,7 juta barel pekan lalu. Sedangkan OPEC dan Rusia telah sepakat untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari hingga Maret 2020.

Harga minyak memang sempat anjlok di perdagangan hari Kamis (24/10) WIB kemarin. Salah satu faktor penurunan harga adalah hubungan AS-Tiongkok. Terakhir, Wakil Presiden AS Mike Pence menuding Beijing mereduksi kebebasan warga Hong Kong.

Pernyataan disampaikan Pence hanya beberapa waktu sebelum kedua negara memulai pembicaraan dagang. Tiongkok dan AS saat ini sedang terlibat dalam perang dagang.  “Kami merasa perkembangan geopolitik dan perdagangan berdampak pada pasar,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates.

(Baca: OPEC Akan Pangkas Produksi, Harga Minyak Naik ke US$ 59,7 per Barel)

AS saat ini dihantui resesi ekonomi, demikian pula belahan dunia lain. Jumlah pekerja manufaktur swasta Jerman di bulan Oktober turun untuk pertama kalinya selama enam tahun. Bank Sentral Jerman pada bulan lalu menyebut negara itu secara teknis bisa dikatakan memasuki resesi pada kuartal III 2019.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait