Sempat Terkerek Karena Stok AS, Harga Minyak Kembali Anjlok

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate turun 45 sen menjadi US$ 55,52. Sedangkan harga Brent turun 38 sen ke angka US$ 60,7.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
24 Oktober 2019, 09:36
Harga Minyak, Minyak, Market.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
ilustrasi kilang minyak. Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (24/10) setelah mengalami kenaikan Rabu (23/10) kemarin. Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun 38 sen ke angka US$ 60,79 per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate turun 45 sen menjadi US$ 55,52.

 

Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (24/10) setelah mengalami kenaikan Rabu (23/10) kemarin. Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun 38 sen ke angka US$ 60,79 per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate turun 45 sen menjadi US$ 55,52.

Harga sempat positif setelah data Energy Information Administration (EIA) menyatakan stok minyak mentah AS turun 1,7 juta barel pekan lalu. Ini lantaran kilang Negeri Paman Sam menaikkan produksi hingga 429.000 barel per hari (bph) dibarengi penurunan impor.

Gene McGillian, Vice President Market Research di Tradition Energy Gene, Stamford, Connecticut sempat menyoroti berapa lama harga minyak bisa bertahan positif. Namun ia meyakini harga emas hitam akan bergerak naik. “Market akan kembali ke sini (minyak),” kata McGillian dilansir dari Reuters, Kamis (24/10).

(Baca: Usai Turun 1% Akibat Kekhawatiran Global, Harga Minyak Naik Tipis )

Harga minyak juga sempat melemah hari Selasa (24/10) setelah data American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS naik 4,5 juta barel menjadi 437 juta barel. McGillian memperkirakan kenaikan persediaan karena produksi kilang AS yang tinggi. Investor juga masih khawatir situasi ekonomi global menyusul laporan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Eropa.

Harga minyak sempat terdorong positif lantaran terdorong langkah organisasi negara penghasil minyak dunia (OPEC) serta Rusia untuk memangkas produksi 1,2 juta barel per hari. Wacana pemangkasan ini akan dibahas pada pertemuan OPEC tanggal 5 hingga 6 Desember mendatang.

Namun harga minyak bisa turun jika tak ada perkembangan signifikan dari pembicaran dagang AS-Tiongkok. “Situasi bisa berubah jika pembicaraan dagang memburuk,” kata analis FXTM Lukman Otunuga. 

(Baca: OPEC Akan Pangkas Produksi, Harga Minyak Naik ke US$ 59,7 per Barel)

Dana moneter internasional (IMF) pekan lalu memperkirakan bahwa dampak dari perang dagang kedua negara akan memperlambat pertumbuhan global pada 2019 menjadi 3,0%. Jika sampai terjadi, ini pertumbuhan ekonomi global terlemah dalam satu dekade.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait