Serangan Kilang di Arab Saudi Memicu Lonjakan Harga Minyak hingga 19%

Serangan terjadi pada fasilitas pemrosesan minyak bumi yang berada di Abqaiq dan Khurais.
Image title
16 September 2019, 09:22
Harga Minyak, Arab Saudi, Minyak, serangan kilang minyak,
Katadata
Ilustrasi kilang minyak. Serangan ke fasilitas minyak bumi saudi bawa harga minyak tertinggi sejak Mei.

Harga minyak pada Senin (16/9) melonjak lebih dari 15% atau menyentuh level tertinggi dalam hampir empat bulan belakangan. Ini setelah adanya serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada Sabtu (14/9) yang menurunkan lebih dari 5% pasokan minyak global.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent melonjak lebih dari 19% menjadi US$ 71,95 per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 15% ke US$ 63,34 per barel. Harga ini merupakan yang tertinggi sejak bulan Mei lalu.

Fasilitas pemrosesan minyak bumi yang berada di Abqaiq dan Khurais merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Sedangkan kelompok pemberontak Houthi dari Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

“Memerlukan beberapa pekan sebelum suplai minyak normal kembali,” kata Kepala Analis Interfax Energy Abhishek Kumar dilansir dari Reuters, Senin (16/9).

Advertisement

(Baca: Drone Pemberontak Yaman Serang Kilang Minyak Terbesar Arab Saudi)

Saudi Aramco mengatakan serangan tersebut memangkas produksi sebesar 5,7 juta barel per hari. Padahal perusahaan minyak raksasa tersebut sedang  mempersiapkan diri untuk penjualan saham terbesar di dunia. Hingga saat ini, Aramco juga tidak dapat menentukan kapan kapasitas produksi akan kembali normal.

“Pihak berwenang Saudi mengklaim kebakaran dikendalikan, tapi ini masih jauh,” kata Kumar.

Kenaikan harga sempat tertahan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan siap melepas minyak dari cadangan strategis jika diperlukan. Pernyataan ini merespons serangan terhadap fasilitas minyak Saudi. Pemerintah Saudi juga siap melanjutkan ekspor dengan memanfaatkan stok dari fasilitas kilang besar lainnya.

Kendati demikian Direktur Pelaksana Strategi Energi di RBC Capital Markets, New York yakni Michael Tran mengatakan serangan pada fasilitas kilang Saudi bukan satu-satunya penentu harga minyak. “Seperti ketersediaan pasokan ekspor, elastisitas harga, hingga kebijakan pemerintahan negara tertentu,” ujar Tran.

(Baca: Harga Minyak Turun 1% Menyusul Keraguan Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait