Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Penarikan Stok AS dan Perang Dagang

Kekhawatiran tentang resesi dan ketidakpastian atas perang dagang AS-Tiongkok masih membayangi pergerakan harga minyak.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
28 Agustus 2019, 09:40
Harga Minyak Naik, Amerika Serikat, Perang Dagang
KATADATA
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak hari Rabu (28/8) naik imbas ekspektasi penarikan stok minyak mentah AS.

Harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa (27/8) atau Rabu waktu Indonesia. Hal ini seiring ekspektasi ditariknya persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS). Meski demikian kekhawatiran tentang resesi dan ketidakpastian atas kesepakatan dagang AS-Tiongkok masih membayangi pergerakan harga.

Mengutip Reuters, harga minyak berjangka jenis Brent ditutup naik 1,4 % menjadi US$ 59,51 per barel. Sedangkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS merangkak 2,4 % menjadi US$ 54,93 per barel. Harga sempat menyentuh titik tertinggi dengan Brent menembus US$ 59,88 dan WTI US$ 55,45 per barel. Ini setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun lebih dari yang diharapkan.

Pekan lalu stok minyak mentah AS anjlok 11,1 juta barel, padahal ekspektasi untuk penarikan hanya dua juta barel. Pengurangan pasokan tersebut tentunya menjadi dorongan harga minyak mentah. “Mengurangi kekhawatiran dari ketegangan perdagangan yang dapat membebani permintaan (minyak),” kata Direktur Energi Berjanngka di Mizuho New York Bob Yawger seperti dilansir Reuters, Rabu (28/8).

(Baca: Harga Minyak Sempat Turun 1% Seiring Prospek Pasokan Naik dari Iran)

Harga minyak mentah telah turun sekitar 20 % dari level tertingginya di 2019 pada bulan April. Sebagian karena kekhawatiran bahwa perang dagang AS-Cina merusak ekonomi global yang dapat mengurangi permintaan minyak.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin (26/8) lalu bahwa ia percaya Tiongkok ingin mencapai kesepakatan perdagangan. Sementara Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He mengatakan pihaknya bersedia untuk menyelesaikan perselisihan melalui negosiasi.

Kekhawatiran tentang pembicaraan perdagangan muncul kembali setelah Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak mendengar adanya pembicaraan perdagangan antara Washington dan Beijing. Tiongkok juga berharap Washington dapat menciptakan keadaan kondusif untuk pembicaraan dagang.

(Baca: Trump Sebut Tiongkok Tak Punya Pilihan Selain Sepakat dengan AS)

Kementerian Perdagangan Tiongkok pada pekan lalu mengatakan akan memberlakukan tarif tambahan 5 atau 10 % pada 5.078 produk yang berasal dari Amerika Serikat. Produknya meliputi minyak mentah, produk pertanian, dan pesawat kecil. Sebagai balasan, Trump memerintahkan perusahaan-perusahaan AS untuk mencari cara menutup operasinya di Tiongkok dan membuat produk di Amerika Serikat.

"Rasa tenang relatif telah dipulihkan, tetapi tidak mungkin untuk mengetahui berapa lama itu akan berlangsung," kata Tamas Varga, pialang minyak PVM.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait