Singapura Jadi Negara Pertama di ASEAN yang Capai 10 Ribu Kasus Corona

Mayoritas kasus baru di Singapura terkait dengan penularan di asrama pekerja migran
Ameidyo Daud Nasution
22 April 2020, 21:09
singapura, virus corona, covid-19
ANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su/aww/cf
Pekerja migran di sebuah koridor asrama yang diisolasi akibat penyebaran virus corona Covid-19 di Singapura, Selasa (21/4/2020). Singapura pada Rabu (22/4) jadi negara Asia Tenggara pertama yang tembus 10 ribu kasus corona.

Singapura menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menembus 10 ribu kasus positif virus corona Covid-19. Ini seiring tambahan 1.016 pasien baru sehingga total 10.141 orang terinfeksi penyakit ini.

Dari keterangan resmi Kementerian Kesehatan Singapura, mayoritas kasus baru masih terkait dengan penularan di asrama pekerja migran. “Sebanyak 15 kasus adalah warga atau penduduk tetap Singapura,” bunyi keterangan tertulis Kementerian Kesehatan resmi Singapura, Rabu (22/4).

(Baca: Pemerintah AS Ingatkan Potensi Bahaya Gelombang Kedua Virus Corona)

Tambahan kasus ini membuat selisih angka pasien Covid-19 Singapura dengan jirannya di ASEAN bertambah lebar. Di bawah mereka ada Indonesia dengan jumlah 7.418 kasus positif corona. Sedangkan Filipina ada di posisi tiga dengan 6.710 orang terinfeksi.

Advertisement

Meski jadi jawara dalam hal jumlah kasus, namun angka kematian akibat corona di Singapura hanya 11 orang. Negara Asia Tenggara dengan jumlah korban terbanyak Covid-19 adalah Indonesia dengan 635 orang meninggal dunia.

Singapura pada Selasa (21/4) memutuskan untuk memperpanjang lockdown parsial mereka hingga 1 Juni dari sebelumnya 4 Mei. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong berharap perpanjangan ini akan menurunkan angka penularan dan mencegah munculnya kluster Covid-19 baru.

“Karena itu kami akan memperpanjang 'pemutus arus' selama empat minggu lagi. Dengan kata lain, hingga 1 Juni,” kata PM Lee dikutip dari Channel News Asia, Selasa (21/4). 

‘Pemutus Arus’ adalah kebijakan pembatasan mereka guna mencegah penyebaran corona lebih luas lagi. Warga hanya dibolehkan keluar dari tempat tinggal untuk 10 kegiatan penting seperti berbelanja bahan pokok hingga mencari bantuan medis.

Meski efektif menekan kasus baru corona di kalangan warga lokal, namun Singapura tetap kecolongan dari bertambahnya penularan di pekerja migran. Namun berbeda dengan hunian warga Singapura pada umumnya, asrama pekerja migran mayoritas dapat dikatakan tak layak huni dan menunjang penyebaran corona.

(Baca: Ledakan Kasus Corona, Singapura Perpanjang Lockdown Hingga 1 Juni)

Lembaga nirlaba juga menyoroti kondisi tempat tinggal buruh asing yang sangat sempit dan tak sehat. Direktur Eksekutif Organisasi Kemanusiaan untuk Migrasi Ekonomi (HOME) Catherine James mengatakan kondisi ini ditunjang aturan luas hunian minimal yang ditetapkan Pemerintah Singapura adalah 4,5 meter persegi per orang.

“Menjaga mereka dalam kondisi seperti itu menciptakan kerentanan sistemik. Tidak hanya pandemi (Covid-19), tapi wabah skala kecil seperti tuberkulosis (bisa muncul),” kata James dilansir dari BBC.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait