Raksasa Farmasi AS Pfizer Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Virus Corona

Vaksin bernama BNT 162 ini dikembangkan bersama perusahaan Jerman yaitu BioNTech
Ameidyo Daud Nasution
6 Mei 2020, 17:51
vaksin corona, farmasi, virus corona
123RF.com/Lightfieldstudios
Ilustrasi obat dan alat suntik. Perusahan farmasi AS Pfizer hari Selasa (5/5) menyatakan telah memulai uji coba vaksin corona.

Raksasa farmasi Amerika Serikat yakni Pfizer telah memulai uji coba vaksin virus corona Covid-19 pada sukarelawan manusia di AS pekan ini.  Antivirus bernama BNT 162 ini dikembangkan bersama perusahaan Jerman yaitu BioNTech.

Uji coba ini akan dilakukan pada 360 orang yang dibagi menjadi dua kelompok usia yakni 18-55 dan 65-85 tahun. Lokasi percobaan dilakukan di Fakultas Kedokteran New York University, University of Maryland, University of Rochester, dan Cincinnati Children’s Hospital Medical Center.

Pekan lalu BioNTech sudah memulai uji coba vaksin di Jerman. Jika semua berjalan lancar, maka targetnya antivirus ini dapat digunakan pada 2020.

“Kami berharap dapat maju dengan cepat bersama mitra di BioNTech dan regulator untuk menghasilkan vaksin yang aman dan manjur,” kata CEO Pfizer Albert Boula seperti dikutip dari Forbes, Rabu (6/5).

Advertisement

(Baca: Menristek: Tipe Corona di Indonesia Beda dengan 3 Jenis Lain di Dunia)

Kedua perusahaan menyiapkan empat kandidat vaksin yang mewakili kombinasi berbeda asam nukleat (RNA) dan antigen. Uji coba dilakukan untuk mengidentifikasi calon antivirus yang paling aman dan manjur.

“Menyenangkan bahwa kami mampu memanfaatkan pengalaman satu dekade pengembangan mRNA untuk memulai uji klinis global,” kata CEO BioNTech Ugur Sahin.

BioNTech SE telah memulai uji coba klinis kandidat vaksin virus corona sejak Kamis (23/4) lalu pada 12 partisipan. Pengujian dilakukan pada 200 sukarelawan berusia 18 hingga 55 tahun untuk mengetahui dosis yang tepat.

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn sebelumnya menyambut baik rencana uji coba vaksin kolaborasi BioNTech-Pfizer ini. Namun ia juga meminta khalayak untuk bersabar karena pengembangannya pasti memakan waktu yang tak sebentar.

(Baca: Kemenkes Uji Obat Ebola hingga HIV pada Pasien Covid-19)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait