Sudah Uji Klinis, Ventilator ITB Siap Diproduksi untuk Tangani Corona

Dimas Jarot Bayu
11 Mei 2020, 19:20
ventilator, virus corona, ITB
ANTARA FOTO/Novrian Arbi/hp.
Uji coba alat kesehatan Ventilator Vent-I di Salman ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/4/2020). Pemerintah (11/5) mengatakan ventilator buatan ITB telah rampung uji klinis dan siap diproduksi.

Pemerintah menyebut purwarupa ventilator buatan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah selesai menjalani uji klinis. Alat bantu napas tersebut akan masuk fase produksi untuk didistribusikan guna menangani pasien virus corona Covid-19.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro berharap ventilator tersebut bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri. "Kapasitas produksi kira-kira itu 100 unit ventilator tiap minggu," ujar Bambang usai rapat terbatas melalui konferensi video, Senin (11/5).

(Baca: Jokowi: Ada Kemajuan Signifikan dalam Riset Penanganan Corona di RI)

Selain itu masih ada tiga purwarupa ventilator lagi yang sedang melakukan pengujian klinis di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian kesehatan. Ketiganya dikembangkan Universitas Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta PT Darma Precission Tools.

Bambang mengatakan, uji klinis untuk tiga purwarupa ventilator tersebut akan selesai dalam beberapa hari mendatang. "Sehingga kemungkinan minggu depan produksi dalam jumlah besar sudah bisa dilakukan," kata Bambang.

Selain ventilator, Indonesia juga berencana untuk memproduksi alat polymerase chain reaction (PCR) untuk pengujian corona. Saat ini, purwarupa PCR tersebut sedang dalam tahap validasi dan registrasi. Bambang berharap alat tersebut bisa diproduksi secara massal akhir Mei 2020.

"Diharapkan bisa produksi sampai 50 ribu unit. Tentunya ini akan membantu upaya kami lakukan tes PCR secara masif sesuai target Bapak Presiden yaitu 10 ribu tes per hari," kata Bambang.

Pengembangan rapid test buatan dalam negeri juga sedang dalam tahap validasi dan registrasi. Bambang menargetkan alat tes massal itu dapat diproduksi sekitar 50 ribu sampai 100 ribu unit setiap bulannya.

"Sebenarnya ada tiga lagi jenis rapid test yang sedang dikembangkan, tapi mungkin masih butuh waktu satu sampai dua bulan ke depan," kata dia.

Dalam rapat terbatas, Bambang juga melaporkan pengembangan mobile laboratorium biosafety level 2 (mobile BSL-2) oleh BPPT. Diamenargetkan alat tersebut bisa dioperasikan di Rumah Sakit Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta.

Di luar alat kesehatan, Bambang melaporkan tentang uji klinis terhadap berbagai jenis obat yang dipakai untuk menangani corona di berbagai negara. "Selain itu, kami juga lakukan uji klinis terhadap pil kina sebagai komponen obat modern asli Indonesia," katanya.

Pemerintah juga tengah melakukan uji klinis terhadap suplemen yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap corona. Pemerintah pun melakukan uji klinis terapi sel punca atau stem cell untuk menggantikan jaringan paru yang rusak akibat corona.

Sementara, Bambang menilai pengembangan vaksin di Indonesia masih membutuhkan waktu. Namun ia optimis lantaran Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Universitas Airlangga sudah mengirim genom virus ini ke GISAID.

"Maka kami bisa mendeteksi jenis virus Covid-19 apa yang saat ini beredar atau yang mewabah di Indonesia," kata mantan Menteri Keuangan itu.

(Baca: Belum Ada Vaksin Covid-19, Chatib Basri: Memprediksi Ekonomi Sia-sia)

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait