Peneliti IDEAS Khawatirkan Normal Baru Tingkatkan Penularan Corona

Pemerintah perlu mempertimbangkan keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah
Dimas Jarot Bayu
16 Juni 2020, 13:36
virus corona, new normal, covid-19
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/hp.
Penerapan new normal di sebuah hotel, Jakarta, Selasa (9/6/2020). Peneliti mengkhawatirkan penerapan new normal dapat berdampak kepada menyebarnya virus corona di RI.

Penerapan tatanan normal baru (new normal ) di tengah pandemi virus corona dinilai tidak tepat dan dikhawatirkan dapat meningkatkan penyebaran Covid-19 di Indonesia.  Ini karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang selama ini dijalankan saja belum mampu untuk meredakan pandemi. 

Hal ini disampaikan oleh para peneliti dari Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), dalam sebuah diskusi virtual Selasa (16/6). IDEAS adalah lembaga pengkajian kebijakan publik yang berada di bawah naungan Yayasan Dompet Dhuafa.

Mereka mengatakan laju penyebaran corona saat ini cenderung naik meski ada pembatasan.  Peneliti IDEAS Febbi Meidawati menjelaskan rata-rata kasus corona secara harian sebelum implementasi PSBB sebanyak 65 orang. Pada bulan pertama PSBB, rata-rata kasus per harinya mencapai 327 orang. 

Pada bulan kedua PSBB, rata-rata kasus corona per harinya sebanyak 563 orang. Sepekan terakhir, Febbi menyebut kasus corona per harinya mencapai 900-1.000 orang.  "Sudah ada PSBB saja data positif Covid-19 meningkat, apalagi jika tidak ada PSBB," kata Febbi.

(Baca: Tahun Ajaran Baru dan Protokol Kesehatan Sekolah di Zona Hijau )

Lebih lanjut, Febbi menilai pemerintah tak bisa serta-merta menggunakan angka reproduksi efektif (Rt) di bawah 1 sebagai acuan bagi daerah ketika ingin menerapkan tatanan normal baru lantaran belum cukup akurat. Ini karena angka pengujian dari spesimen corona di RI yang masih rendah.

Advertisement

Febbi pun menilai waktu pelaporan dari pengujian spesimen corona masih lambat. Belum lagi kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi kontak erat dari kasus positif masih rendah. "Ini membuat estimasi Rt menjadi bias dan cenderung overestimate," kata Febbi.

Peneliti IDEAS lainnya, Fajri Azhari mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah. Dia khawatir fasilitas kesehatan yang ada tak mampu menangani peningkatan kasus corona karena penerapan tatanan normal baru.

Fajri lalu meminta pemerintah belajar dari empat negara lain yang penyebaran coronanya meningkat ketika melonggarkan karantina, yakni Iran, India, Pakistan, dan Meksiko. Di Iran, Fajri menyebut ada pelonjakan kasus tertinggi dalam satu bulan terakhir setelah karantina dilonggarkan.

Hal yang sama juga terjadi di India. "Pelonggaran dilakukan 31 Mei, sejak itu India mencatat total pertumbuhan ganda kasus corona. Ini pertumbuhannya mencapai 10 ribu per tanggal 26 Mei," kata Fajri.

(Baca: Mal Kembali Beroperasi, Agung Podomoro Sediakan Fasilitas Tanpa Sentuh)

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait