Moeldoko Jelaskan Makna di Balik Ancaman Jokowi Reshuffle Kabinet

Moeldoko mengibaratkan ancaman reshuffle oleh Jokowi dengan strategi militer. Tujuannya memberi contoh tegas kepada bawahannya.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
29 Juni 2020, 17:42
reshuffle, moeldoko, jokowi
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (13/2/2020). Moeldoko mengatakan ancaman reshuffle kabinet oleh Presiden Joko Widodo untuk memberikan contoh tegas kepada para Menteri.

Presiden Joko Widodo kesal dengan kinerja para menteri terkait penanganan virus corona Covid-19 yang biasa-biasa saja. Bahkan Jokowi sempat mengancam akan mengocok ulang (reshuffle) kabinet dan membubarkan lembaga akibat penanganan corona yang tidak optimal.

Kepala Staf Presiden Moeldoko menyebutkan ancaman Jokowi tersebut seperti strategi di dunia militer. Hal tersebut untuk memberikan contoh tegas kepada jajarannya.

"Memang Presiden mengatakan 'saya akan ambil sebuah risiko, reputasi politik akan saya pertaruhkan'. Maknanya Presiden ambil langkah-langkah yang memberikan contoh kepada bawahannya," kata Moeldoko di kantornya, Jakarta, Senin (29/6).

(Baca: Moeldoko: Jokowi Marah Karena Penanganan Corona Tak Sesuai Harapannya)

Moeldoko mengatakan ada tiga langkah yang biasa diambil komandan militer di situasi krisis. Pertama menunjukkan kehadiran komandan militer di lapangan. Cara ini telah diambil Jokowi di Jawa Timur beberapa hari lalu.

Kedua adalah dengan mengirimkan senjata bantuan, dalam hal ini adalah bantuan sosial. Namun jika dua cara tak berhasil mengatasi krisis, komandan militer akan mengeluarkan jurus ketiga yakni pengerahan kekuatan cadangan.

Menurut mantan Panglima TNI tersebut, pengerahan kekuatan cadangan adalah opsi terakhir yang biasa diambil komandan militer. Biasanya, langkah ini baru diambil ketika situasi sangat jelek. "Jangan sampai ini dijalankan oleh Presiden," kata dia.

Saat berpidato membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, 18 Juni lalu, Jokowi mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja sejumlah bawahannya. Ini lantaran para anggota kabinet tidak menunjukkan progres saat menangani krisis dampak dari Covid-19.

Padahal menurut Jokowi, dalam tiga bulan ke depan Indonesia masih berada dalam suasana krisis. Ia merujuk pada proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dibuat beberapa lembaga internasional belum lama ini. "Saya harus ngomong apa adanya, tidak ada progres signifikan,” kata Jokowi.

(Baca: Video: Jokowi Ancam Bubarkan Lembaga dan Reshuffle Para Menteri)

Jokowi mendesak para menteri membuat langkah dan kebijakan luar biasa untuk mengatasi krisis saat ini. Bahkan ia mengancam kocok ulang bawahannya jika masih tidak menunjukkan progress signifikan dalam menghadapi krisis.

"Sudah kepikiran kemana-mana saya. Kalau memang diperlukan karena memang suasana (senses of crisis) ini harus ada,” katanya.

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Video Pilihan

Artikel Terkait