Rasio Kematian Pasien Corona RI Lebih Tinggi dari Rata-Rata Dunia

Penyumbang terbesar kematian pasien Covid-19 adalah Provinsi Jawa Timur. Kesiapan rumah sakit di wilayah tersebut jadi sorotan epidemiolog.
Ameidyo Daud Nasution
6 Juli 2020, 18:59
jawa timur, virus corona, covid-19
ANTARA FOTO/FB Anggoro/hp.
Pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tengku Mahmud Palas di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (28/4/2020). Angka kematian akibat Covid-19 di RI hingga Senin (6/7) mencapai 3.241 orang.

Pemerintah melaporkan angka kematian akibat virus corona di RI bertambah 70 menjadi 3.241 orang pada hari Senin (6/7). Ini berarti rasio kematian kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 4,9% atau di atas rata-rata global yakni 4,47%.

Adapun jumlah kasus positif corona RI hingga hari ini mencapai 64.958 orang. Juru bicara nasional penanganan corona RI Achmad Yurianto berharap angka ini akan semakin turun dalam beberapa waktu ke depan.

“Angka ini dinamis, dengan semakin banyak kasus diisolasi maka angkanya akan semakin turun,” katanya di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (6/7).

(Baca: Kasus Corona RI Bertambah 1.209 Orang, Didominasi 4 Provinsi di Jawa)

Advertisement

Penyumbang terbesar angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia adalah Provinsi Jawa Timur dengan jumlah 1.053 orang. Rasio pasien meninggal di wilayah ini mencapai 7,3% atau di atas rata-rata nasional.

Berikutnya ada DKI Jakarta dengan 649 kasus meninggal atau 5,1% dari total angka positif di Ibu Kota. Di bawahnya ada Jawa Tengah yang melaporkan 215 pasien meninggal, setara dengan 4,5% dari rasio kasus positif di daerah tersebut.

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI Pandu Riono mengatakan tingginya rasio kematian di Jatim berkaitan erat dengan kesiapan fasilitas kesehatan di sana. Dia menjelaskan berbeda dengan daerah lain, pada awalnya Jatim tak menyiapkan rumah sakit khusus yang bisa melayani kasus corona.

Sebagai contoh DKI Jakarta sejak awal sudah menyiapkan beberapa rumah sakit rujukan untuk mengurangi beban Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.  “Seharusnya ditunjuk RS khusus, agar bisa mengambil 100% pasien,” kata Pandu kepada Katadata.co.id, Senin (6/7).

Dia mengatakan faktor lainnya adalah banyaknya pasien Covid-19 dengan penyakit penyerta. Namun faktor ini sebenarnya dapat dihindari jika rumah sakit di wilayah kritis sudah siap secara kapasitas. “Kalau tidak, bisa terlambat karena ada comorbid,” katanya.

Namun secara umum Pandu juga menyoroti kasus positif Covid-19 yang terus bertambah hingga saat ini. Dia berharap jumlah tes di tiap daerah bisa ditambah agar rasio kasus positif bisa di bawah 5%. “Paling bagus akan turun angkanya,” katanya.

(Baca: WHO: Hanya Jakarta yang Penuhi Standar Minimum Tes Corona di Jawa)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait