Pakar Ragukan Prediksi Jokowi Soal Puncak Corona Agustus-September

Beberapa faktor target ini sulit tercapai adalah indikator berubah-ubah, lemahnya pengawasan, hingga karakteristik wilayah yang berbeda.
Dimas Jarot Bayu
14 Juli 2020, 18:43
virus corona, jokowi, covid-19
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/hp.
Te swab bersama razia kepatuhan penggunaan masker di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (6/7/2020). Ahli meragukan prediksi Jokowi soal puncak kasus corona Agustus-September bisa tercapai.

Ahli epidemiologi meragukan prediksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal puncak kurva penyebaran virus corona pada Agustus-September 2020. Ini lantaran variabel dan indikator pengendalian Covid-19 masih berubah-ubah hingga saat ini.

Presiden Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan kondisi ini menyulitkan prediksi puncak penyebaran corona.  “Tidak ada variabel yang konsisten dalam pengendalian Covid-19 di Indonesia,” kata Hermawan ketika dihubungi Katadata.co.id, Selasa (14/7).

(Baca: Jokowi Perkirakan Puncak Corona pada September, Apa Versi Epidemiolog?)

Hermawan mencontohkan pemerintah saat ini sudah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi mendongkrak ekonomi. Sementara, kesadaran warga untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan juga belum terlihat. “Perilaku dan kesadaran masyarakat sangat biasa, permisif,” kata Hermawan.

Dia lalu menilai prediksi yang disampaikan Jokowi hanya untuk memotivasi jajarannya agar bekerja lebih giat dalam pengendalian corona. Hal tersebut sebenanya pernah disampaikan mantan Gubernur DKI Jakarta itu saat memberikan arahan di Provinsi Jawa Timur beberapa pekan lalu.

Ketika itu, Jokowi menargetkan Jatim bisa mengendalikan corona dalam dua pekan. Namun hingga saat ini, kasus di wilayah tersebut masih terus menanjak. “Jadi itu hanya pernyataan motivasi yang sulit kita ukur,” kata Hermawan.

Ahli epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman juga menilai prediksi Jokowi terkait puncak penyebaran corona kurang tepat. Dicky mengatakan, prediksi itu lebih tepat jika hanya mengukur laju penularan di Jawa.

Padahal masih ada beberapa pulau lainnya dengan karakteristik penyebaran yang beragam. Hal ini membuat puncak penularan corona akan berbeda. “Akan berdampak terjadinya perbedaan waktu atau periode rawan pandeminya," kata Dicky.



Walau demikian, Dicky mengatakan jika prediksi tersebut terjadi bukan berarti laju penularan corona di Jawa bisa dipastikan terus menurun setelah September 2020. Menurutnya, masih ada potensi gelombang kedua ke depannya jika pemerintah tak konsisten memeriksa, melacak, dan mengisolasi pasien corona. “Akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan strategi utama pandemi,” kata Dicky.

Makanya Dicky meminta pemerintah terus melakukan penguatan dalam pemeriksaan, pelacakan, dan isolasi pasien corona hingga vaksin ditemukan. "Adapun kekebalan ilmiah masih akan perlu waktu lama," kata Dicky.

Advertisement

Keraguan yang sama juga disampaikan oleh epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Pandu Riono. Dia beralasan penerapan protokol kesehatan saat ini belum ketat dan dapat membuat target Presiden meleset.

“Kami sudah ubah (prediksi) berkali-kali, optimis tadinya kalau (warga) pakai masker. Ini bisa-bisa yang diramalkan Presiden tidak terjadi,” kata Pandu.

Namun ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga Laura Navika Yamani menyampaikan prediksi Jokowi bisa saja terjadi. Ini mengingat upaya pemeriksaan dan pelacakan oleh pemerintah sudah cukup agresif.

"Akibatnya terjadi pelonjakan kasus secara signifikan dan harapannya kasus-kasus Covid-19 dalam masyarakat semakin cepat ditemukan dan terjadi puncak yang cepat," kata Laura.

Demi mewaspadai melonjaknya pasien, Laura meminta pemerintah untuk bisa mempersiapkan fasilitas kesehatan yang cukup. "Rumah sakit rujukan, rumah sakit darurat, maupun tempat isolasi harus siap menampung kasus-kasus yang akan banyak ditemukan," kata Laura.

Jokowi sebelumnya memperkirakan puncak dari pandemi virus corona di Indonesia pada Agustus-September 2020. Namun, Jokowi menilai prediksinya tersebut bisa meleset jika pemerintah tak melakukan sesuatu.  "Oleh sebab itu, saya minta pada para menteri untuk bekerja keras," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/7).

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait