Pemerintah Minta Pengusaha & Masyarakat Kompak Cegah Kebakaran Hutan

Kementerian LHK telah membuat Satgas di tiap daerah untuk mencegah kebakaran hutan. Kesadaran masyarakat untuk menggalakkan konservasi lingkungan jadi hal yang penting.
Image title
29 Agustus 2020, 06:00
karhutla, hutan, lingkungan
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Special Advisor to the Minister of Environment and Forestry Hanni Adiati memaparkan materi dalam diskusi virtual SAFE Forum 2020: Collaborating to Mitigate the Risk of Forest Fires, Jump (28/8/2020).

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi permasalahan tahunan di Indonesia. Oleh sebab itu Pemerintah mengajak pengusaha dan masyarakat untuk kompak bekerja sama dalam mencegah bencana ini.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengatakan saat ini telah membuat Satuan Tugas (Satgas) di tiap daerah. Namun mereka beranggapan langkah pertama pencegahan bencana tersebut harus dimulai dari manusia.

"Pengusaha di Riau, Jambi, dan Palangkaraya terhubung dengan harmonis. Ini manusianya sama-sama kendalikan karhutla," kata Penasihat Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Hani Hadiati pada webinar Katadata SAFE Forum 2020 bertajuk Collaborating to Mitigate the Risk of Forest Fires, Jumat (28/8).

Hani mengatakan pihaknya juga melakukan upaya pencegahan dengan melakukan patroli di lapangan yang dilakukan oleh tim Manggala Agni. Patroli juga dilakukan dengan menjangkau daerah non kawasan hutan, seperti kebun sawit.

Kemudian, kontrol juga dilakukan dengan menggunakan data satelit dan pondok kerja darurat di daerah rawan yang tidak terjangkau kendaraan.  Upaya pencegahan lainnya juga dilakukan dengan membuat hujan buatan menggunakan garam (NaCl).

Dia mengatakan, anggaran hujan buatan berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kemudian, informasi terkait awan dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). "Jadi kementerian kami tidak kerja sendiri, perlu koordinasi," ujar dia.

Tidak hanya itu, Kementerian LHK juga menggandeng perusahaan dan Komando Resor Militer setempat. Masyarakat juga dibekali pengetahuan dari perusahaan terkait klasifikasi hutan di desanya.

Setiap pihak diharapkan dapat proaktif dalam mengkomunikasikan bila terjadi kebakaran yang disebabkan oleh hutan atau lahan gambut. "Ini menjadi tulang punggung gimana menjalin komunikasi," katanya.

Pernyataan sama disampaikan Direktur Program Terestrial Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)/The Nature Conservancy (TNC) Ruslandi. Dia mengatakan penanganan kebakaran hutan perlu melibatkan masyarakat. "Karena kebakaran diawali kegiatan-kegiatan di lapangan," ujar dia.

YKAN juga memiliki program bernama Kaltim Green untuk mewujudkan pembangunan ramah lingkungan, rendah emisi, dan berkelanjutan. Mereka telah menggandeng 200 institusi di Kaltim untuk mendukung langkah ini.

Selain itu mereka juga membuat kemitraan untuk mencegah karhutla di desa dekat kebun sawit. Masyarakat setempat turut diberikan pelatihan dan fasilitas untuk memadamkan kebakaran. "Ada pembagian biaya antara masyarakat, NGO, dan perusahaan," ujar Ruslandi.

Dia mengatakan YKAN turut membantu masyarakat untuk membuat rencana pengelolaan desa dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan juga konservasi lingkungan. Apalagi menurutnya pencegahan karhutla menjadi tanggung jawab bersama. "Jadi bukan hanya di pemerintah," katanya.

 

Reporter: Rizky Alika

Video Pilihan

Artikel Terkait