Perjalanan Jakob Oetama, dari Guru hingga Nakhoda Kompas Gramedia

Jakob Oetama meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Ia merintis karirnya sebagai pengajar sebelum berkutat di dunia media RI.
Ameidyo Daud Nasution
9 September 2020, 14:37
jakob oetama, kompas, obituari
Corporate Communication Kompas Gramedia
Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88), meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Kabar duka muncul dari dunia pers Indonesia. Pendiri Kompas Gramedia Group sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama meninggal pada dunia pada Rabu (9/9).

Jakob meninggal pada usia 88 tahun usai dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Rencananya ia jenazah akan disemayamkan di Kantor Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta Pusat dan akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta pada Kamis (10/9).

“Kabar duka, telah meninggal dunia pendiri Kompas Gramedia Group Jakob Oetama,” dalam pengumuman di siaran televisi Kompas TV, Rabu (9/9).

Ketua Tim Dokter RS Mitra Keluarga Kelapa Gading dr Felix Prabowo Salim mengatakan Jakob meninggal usai mengalami penurunan fungsi pada beberapa organ. Dia juga menjelaskan tes usap telah dilakukan dua kali dan hasilnya negatif.

Advertisement

“Kondisinya sempat membaik namun menurun, karena faktor usia akhirnya meninggal,” kata Felix dari siaran Kompas TV.

Dari keterangan Corporate Communications Kompas Gramedia, karyawan dan pengunjung yang hendak memberikan penghormatan dapat mengikuti prosesi persemayaman lewat Kompas TV. Hal ini mengingat perlunya penerapan protokol kesehatan selama pandemi.

“Terima kasih untuk tidak mengunggah foto maupun video rangkaian acara di media sosial,” demikian keterangan tertulis Kompas Gramedia.

Dari Guru Hingga Kompas

Meski menakhodai salah satu grup media terbesar di Indonesia, namun Jakob tak merintis karirnya dari dunia pers. Anak seorang guru ini awalnya bercita-cita mengikuti karir ayahnya sebagai pengajar di Sekolah Menengah Pertama Mardiyuana, Cipanas, Jawa Barat pada 1952 sampai 1953.

Dia juga mengajar di guru di Sekolah Guru Bantu di Bogor hingga 1954 dan dilanjutkan dengan guru SMP Van Lith, Jakarta hingga 1956.

Tahun 1954, pria kelahiran Magelang, 27 September 1931 ini memulai perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik RI dengan bekerja sebagai redaktur Mingguan Penabur.  

Tahun 1961, Jakob bersama  Petrus Kanisius (PK) Ojong menerbitkan majalah Intisari yang mengacu pada Reader’s Digest. Bersama Ojong pula Jakob mendirikan harian Kompas pada 1965.

Dia lalu menjadi Ketua Editor dan dilanjutkan menjadi Pemimpin Umum/Redaksi Kompas. Di bawah kendalinya, Kompas terus berkembang dan menjadi salah satu surat kabar terbesar di Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, Jakob juga kerap bertindak sebagai guru selain juga wartawan. "Bagaimana menyebarkan nilai untuk jujur, berintgritas, dan mengisi kepala kami," kata Direktur Komunikasi Kompas Gramedia Rusdi Amral.

Belakangan lini bisnis Kompas Gramedia sendiri terus berkembang dan beranak pinak dari awalnya media. KG Group saat ini memiliki bisnis penerbitan (Gramedia), event organizer (Dyandra Promosindo), hotel (santika), consumer goods (Graha Kerindo Utama), hingga pendidikan (Universitas Multimedia Nusantara).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait