Survei Indikator: Elektabilitas Ganjar-Prabowo Naik, Anies-Sandi Turun

Elektabilitas PDI Perjuangan turun dibanding Juli lalu, sedangkan Gerindra meningkat.
Ameidyo Daud Nasution
25 Oktober 2020, 20:32
survei, ganjar pranowo, prabowo
ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (kiri) berbincang dengan pelaku usaha produk pertanian dan perikanan pada Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (Pepda KTNA) Jawa Tengah di Taman Tekhnologi Pertanian (TTP) Desa Kesuben, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (12/11/2019). Pepda KTNA tersebut untuk memperkuat kepemimpinan agribisnis di tingkat petani nelayan.

Indikator Politik Indonesia mengeluarkan hasil survei terbaru mereka yang bertajuk 'Politik, Demokrasi, dan Pilkada di Era Pandemi'. Dari hasil uji persepsi mereka, elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terus bergerak naik seandainya Pemilihan Presiden digelar saat ini.

Survei dilakukan dengan metode simple random sampling kepada 1.200 responden pada 24 sampai 30 September 2020. Survei ini memiliki tingkat toleransi kesalahan (margin of error) 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Elektabilitas Ganjar berada di peringkat pertama pada survei September yakni 18,7% dan terus merangkak dari Juli yaitu 16,2%. Begitu pula Prabowo yang menguntit di belakangnya juga meningkat dari 13,8% pada Juli 2020 menjadi 16,8% September lalu.

Sedangkan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menurun dari 15% Juli menjadi 14,4% bulan lalu. Hal yang sama juga terjadi pada Sandiaga Uno yang keterpilihannya turun dari 9,2% pada Juli menjadi 8,8% pada September.

“Masih konsisten, September Ganjar Prabowo naik, Anies dan Sandi stagnan,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam konferensi pers virtual, Minggu (25/10).

Di bawah mereka, ada nama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang dipilih 7,6% responden, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono 4,2%, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yakni 4%.

Di posisi tujuh ada nama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan elektabilitas 1,4%, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD 1,3%, dan Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yakni 1,2%.

Dari pilihan partai politik, PDI Perjuangan masih dipilih responden terbanyak yakni 25,2%. Meski demikian angka elektabilitas September ini turun dari Juli yaitu sebanyak 26,3%.

Berbeda dengan partai banteng, Partai Gerindra menikmati kenaikan elektabilitas dari 17,7% pada Juli menjadi 21,1% pada bulan lalu. Sedangkan responden yang memilih Golkar hanya 6,7% atau terbanyak ketiga.

Burhanuddin lalu menganalisis kemungkinan penyebab kenaikan angka responden yang memilih Gerindra. Hal ini sebagai cermin kemampan partai berlambang kepala garuda tersebut memainkan dua kartu.

“Mereka ada dalam pemerintahan dan mendapatkan insentif, tapi juga tetap memiliki figur kritis yang mencoba merawat basis lama seperti Fadli Zon,” katanya.

Pilkada 

Dalam hasil survei tersebut juga terlihat bahwa 50,2% responden berharap Pemilihan Kepala Daerah sebaiknya ditunda demi mencegah penularan Covid-19.  Sedangkan 43,4% ingin pesta politik daerah tak ditunda dan 6,4% menyatakan tidak tahu atau tidak jawab.

Jika dibedah, 47,1% menyatakan kecil kemungkinan mereka datang ke tempat pemungutan suara (TPS) jika Pilkada tetap digelar akhir tahun. Angka ini lebih besar dari 40,7% responden yang menyatakan akan tetap datang ke bilik suara jika pemilihan berjalan sesuai waktu.

“Ini sejalan dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang juga meminta penundaan,” kata Burhanuddin.

Sedangkan Ganjar Pranowo bulan lalu telah meminta pemerintah pusat mengkaji penundaan Pilkada 2020 terutama di zona merah.   Dia mempertimbangkanmunculnya klaster penularan di antara petugas pengawas pemilihan di Kabupaten Boyolali.

"Silakan dari kementerian, pemerintah pusat, KPU, Bawaslu untuk menganalisis dan memperhitungkan," kata Ganjar pada tanggal 21 September lalu.

 

 

Video Pilihan

Artikel Terkait