Beragam Jurus Pemerintah Agar UMKM RI Juara di Tengah Pandemi Covid-19

UMKM RI masih terkendala kapasitas, kualitas, dan akses digital. Pandemi bisa menjadi momentum transformasi dan pembenahan usaha kecil.
Image title
Oleh Rizky Alika
26 Oktober 2020, 21:24
umkm, covid-19, virus corona
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Karyawan melayani calon pembeli memilih pakaian yang terbuat dari kain jumputan di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (30/9/2020). Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan realisasi penyaluran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sektor UMKM telah mencapai lebih dari 70 persen dari total anggaran sebesar Rp123,46 triliun.

Pandemi Covid-19 tak hanya meninggalkan kesulitan ekonomi namun potensi bagi usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kesempatan ini besar lantaran hampir 60% roda ekonomi Indonesia digerakkan oleh konsumsi masyarakat.

Dari hasil riset Katadata Insight Center pada Juni 2020 lalu, 56,8% responden UMKM berada dalam posisi buruk usai terimbas pandemi. Sedangkan hanya 14,1% yang kondisinya masih baik meski ekonomi terdampak Covid-19. 

Oleh sebab itu Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki juga menyampaikan apa saja langkah yang perlu dilakukan agar usaha kecil dan menengah menjadi juara dari masa sulit. Apalagi ada tiga kendala yang kerap menerpa usaha mereka.

“Pertama kapasitas produksi, kedua kualitas produksi, dan ketiga interaksi digital,” kata Teten dalam acara Katadata.co.id bertajuk Kelas Seminar Daring -2 : 1001 Cara UMKM Menjadi Juara, Senin (26/10).

 

Dari sisi kebijakan, pemerintah akan menyiapkan kawasan atau klaster UMKM berbasis rantai pasok agar usaha kecil mendapat kemudahan logistik. Teten juga berharap pengurusan seritifikasi mulai halal hingga persyaratan ekspor menuju negara lain dibantu hingga tingkat pemerintah daerah. “Sehingga standar produk UMKM tidak diragukan,” katanya.

Selain itu dia sedang mengkaji kemungkinan adanya satu brand bersama UMKM demi memudahkan konsolidasi terutama untuk ekspor. Ini juga bisa menjadi solusi bagi usaha yang memiliki kapasitas produksi kecil. “Tapi memang perlu difasilitasi daerah,” katanya.

Saat ini baru 10,2 juta atau 16% UMKM yang bisa dikatakan telah terintegrasi secara digital. Oleh sebab itu Teten meminta usaha kecil lain segera terkoneksi secara teknologi. “Karena angkanya sebenarnya naik dari Juni yang hanya 13%. Ini berarti ada dampak dari pandemi sehingga orang beradaptasi,” katanya.

Dari aspek kualitas, Teten menyampaikan UMKM RI memiliki kekuatannya sendiri yakni custom culture. Alih-alih mengandalkan kapasitas besar, banyak pengusaha UMKM menjual produk terbatas dengan kualitas mumpuni.

Dia mencontohkan beberapa produk meliputi sepatu, jam, tas, hingga sepeda motor rakitan. “Kalau produk massal tak bisa bersaing maka ini jadi kekuatan UMKM kita,” katanya. Pemerintah juga akan bermitra dengan diaspora RI di luar negeri untuk membantu memasukkan produk Indonesia ke pasar di setiap negara. 

Salah satu yang menikmati limpahan perpindahan UMKM secara digital adalah Tokopedia. Direktur Kebijakan Publik Tokopedia Astri Wahyuni mengatakan sepanjang Januari hingga September sudah ada 2,2 juta UMKM yang bergabung dalam platform lapak online tersebut.

Padahal dalam periode 2009 hingga 2010, baru 6,5 juta usaha kecil yang berjualan di Tokopedia. Dari data mereka, sebanyak 86,5% merupakan pengusaha baru. “Banyak yang coba-coba membuat usaha,” kata Astri.

Dia mencontohkan beberapa mitra Tokopedia yang menuai hasil dampak pandemi adalah toko perhiasan asal Bali yakni Dewa Collection. Hal yang penting bagi pengusaha kecil adalah segera beradaptasi dengan teknologi dan jenus usaha mengingat peluang pasar saat ini berbeda.

“Penjualan mereka (Dewa Collection) naik 4,5 kali lipat. Ada lagi koesmetik lokal yang meningkat 10 kali lipat,” ujarnya.

Pandemi juga mendatangkan berkah bagi beberapa UMKM, salah satunya Little Thoughts Planner. Mereka mengalihkan bisnis mereka selama pandemi dari party planner menjadi produsen alat pelindung diri (APD).

Founder Little Thoughts Planner Ola Harika mengatakan, ia mendapat pesanan yang sangat tinggi dari luar negeri. Bahkan produknya sempat berhasil menembus ke Australia lantaran dibawa secara mandiri oleh koleganya.

Meski demikian, Ola juga berharap pemerintah memberikan dukungan untuk ekspor. Apalagi saat ini Little Thoughts Planner telah menerima banyak pesanan ke luar negeri. "Barang kita bisa  bersaing di luar asal pemerintah andil mendukung pelaku UMKM bisa berkembang di luar negeri," katanya.

Sedangkan Presiden Joko Widodo kembali menyampaikan Undang-undang Cipta Kerja bisa membawa pengusaha UMKM terutama milenial naik kelas. "Saya yakin kita akan bisa cepat naik kelas. Dengan menjadikan UMKM milik kaum milenial sebagai motor penggerak," kata Jokowi secara virtual dalam sebuah acara Festival UMKM, Senin (26/10).  

 

 

Reporter: Rizky Alika

Video Pilihan

Artikel Terkait