Terganjal Produksi, AstraZeneca Pangkas Pasokan Vaksin ke Uni Eropa

Ini merupakan pukulan kedua bagi Uni Eropa usai Pfizer menunda pasokan vaksin Covid-19 ke wilayah tersebut
Ameidyo Daud Nasution
24 Januari 2021, 11:49
vaksin, covid-19, astrazeneca
ANTARA FOTO/REUTERS/Jason Cairnduff/WSJ/cf
Jason Cairnduff Doreen Vickers, 83 tahun, menunggu saat seorang tenaga kesehatan mengisi jarum suntik dengan dosis vaksis Oxford/AstraZeneca COVID-19 di Appleton Village Pharmacy di Widnes, Britain, Kamis (14/1/2021). AstraZeneca memangkas volume pengiriman vaksin ke Uni Eropa

Raksasa farmasi AstraZeneca akan memangkas pengiriman vaksin Covid-19 ke negara Uni Eropa hingga 60%. Ini terjadi setelah adanya masalah produksi di pabrik Belgia yang dijalankan mitra mereka yakni Novasep.

Dikutip dari Reuters, Minggu (24/1), seorang sumber di Uni Eropa memberitahu bahwa awalnya AstraZeneca akan mendistribusikan 80 juta dosis vaksin ke 27 negara Eropa hingga Maret 2021. Meski demikian, mereka hanya mampu memenuhi 31 juta dosis saja.

Ini merupakan pukulan kedua bagi Uni Eropa usai Pfizer menunda pasokan vaksin ke wilayah tersebut. Adapun AstraZeneca telah mengonfirmasikan penurunan volume produksi lantaran masalah manufaktur.

Meski demikian, perusahaan Inggris tersebut tetap menjanjikan jutaan dosis vaksin akan tiba dalam waktu dekat. "Kami (tetap)akan memasok puluhan juta dosis pada bulan Februari dan Maret ke Uni Eropa," demikian keterangan tertulis AstraZeneca dikutip dari Reuters, Minggu (24/1).

 

Sedangkan Komisioner Kesehatan Uni Eropa Stella Kyriakides menyatakan ketidakpuasannya atas keputusan ini. Regulator Uni Eropa sebenarnya siap memberikan persetujuan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca pada 29 Januari mendatang.

Uni Eropa telah sepakat untuk mengamankan pasokan vaksin corona bikinan AstraZeneca sebanyak 300 juta dosis. Mereka juga memiliki opsi untuk mendapatkan tambahan 100 juta vaksin.

Adapun AstraZeneca bersama Universitas Oxford tengah melaksanakan studi kelayakan untuk mengkonfigurasi ulang teknologi dalam pembuatan vaksin ChAdOx yang mereka kembangkan sebelumnya. 

Ini seiring munculnya varian baru Covid-19 ditemukan di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil. Ilmuwan menduga varian dari hasil mutasi virus itu telah menyebar ke banyak negara. 

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pada Rabu (20/1) bahwa regulator obat-obatan  bakal siap memberikan persetujuan untuk versi baru vaksin Covid-19 yang dirancang untuk melawan varian baru virus corona.

 

Video Pilihan

Artikel Terkait