Baru 14% hingga Mei, Realisasi Dana PEN untuk Kesehatan yang Terendah

Rasio pencairan dana PEN terbesar adalah insentif usaha yakni Rp 26,8 triliun atau 47,3 persen dari pagu Rp 56,7 triliun.
Ameidyo Daud Nasution
17 Mei 2021, 18:50
PEN, covid-19, anggaran, makro, kesehatan
ANTARA FOTO/ Irwansyah Putra/aww.
Tenaga medis ruang rawat Pinere Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa memakai kostum Alat Pengaman Diri (APD) COVID-19 di Banda Aceh, Aceh, Senin (3/5/2021). Hingga 11 Mei 2021, realisasi pencairan dana PEN sektor kesehatan baru mencapai 14 persen dari total pagu Rp 175 triliun.

Realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terus meningkat. Hingga 11 Mei, dana yang telah dicairkan pemerintah mencapai Rp 172,3 triliun atau 24 persen dari pagu anggaran Rp 699,4 triliun.

Meski demikian, rasio pencairan insentif sektor kesehatan masih menjadi yang terendah yakni 14,2 persen. Hingga 11 April, baru Rp 24,9 triliun dari total Rp 175 triliun dana sektor ini yang telah cair. Sedangkan rasio pencairan terbesar adalah insentif usaha yakni Rp 26,8 triliun atau 47,3 persen dari pagu Rp 56,7 triliun.

Sedangkan nominal pencairan terbesar adalah program perlindungan sosial yakni Rp 56, triliun dari Rp 150,2 triliun. Di bawahnya adalah dukungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan korporasi yakni Rp 42 triliun dari total Rp 193,5 triliun.

“Lalu program prioritas yakni Rp 21,8 triliun atau 17,6 persen dari pagu Rp 123,6 triliun,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual, Senin (17/5).

Airlangga juga memerinci dari total bantuan sosial. Rasio penyaluran terbesar berada pada pos bantuan sosial tunai yakni Rp 11,8 triliun atau 98,3 persen. Adapun nominal terbesar adalah program kartu sembako dengan besar pencairan Rp 17,2 triliun atau setara 38,2 persen.

Dia juga menyampaikan denyut ekonomi semakin berjalan. Dari data Bank Indonesia, peredaran uang tunai yang beredar selama Ramadhan mencapai Rp 154,5 triliun atau naik dari 41,5 persen dari hari raya tahun 2020.

“Sementara penarikan uang tunai di Jabodetabek naik 61 persen menjadi Rp 38 triliun,” katanya.

Sebelumnya, Bank DBS optimis akan terjadi pemulihan ekonomi di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara tahun ini seiring berlangsungnya program vaksinasi. Mereka memperkirakan ekonomi RI akan membaik dengan pertumbuhan 4,0% dan 4,5% di 2022.

“Di Asia Tenggara, Indonesia dan Singapura merupakan dua negara yang lebih dulu memulai vaksinasi pada pertengahan Januari 2021," tulis ekonomi DBS Radhika Rao dalam DBS Asian Insights bertajuk ASEAN-6 Chartbox: Turning-Corner, Senin (3/5).

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait