Bima Arya Berikan Resep Agar Kepala Daerah Sukses Hadapi Pandemi

Salah satu kolaborasi yang sederhana adalah pentahelix yakni kerja sama antara pemerintah, universitas, pengusaha, komunitas, dan media.
Rizky Alika
25 Mei 2021, 16:34
covid, bima arya, wali kota, bogor
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.
Wali Kota Bogor Bima Arya (kanan) bersama Direktur Utama RSUD Kota Bogor Ilham Chaidir (tengah) meninjau kesiapan rumah sakit darurat di wisma atlet Kota Bogor, GOR Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/12/2020). Pemerintah Kota Bogor menyiapkan rumah sakit darurat untuk menangani pasien COVID-19 karena tingkat keterisian tempat tidur pasien di RSUD Kota Bogor sudah melebihi 80 persen sementara jumlah kasus infeksi virus Corona di Kota Bogor terus bertambah.

Para pimpinan daerah berupaya untuk beradaptasi dengan situasi sulit termasuk pandemi Covid-19 yang melanda saat ini. Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Bima Arya Sugiarto mengatakan, pimpinan daerah perlu melakukan kolaborasi untuk bisa beradaptasi dan berprestasi di tengah pandemi.

Menurutnya, kolaborasi diperlukan lantaran persoalan yang berkembang semakin kompleks. Di sisi lain, sumber daya dan logistik juga terbatas. Oleh karenanya, pemerintah yang tidak bisa berkolaborasi diperkirakan tidak bisa mengimbangi perubahan persoalan tersebut.

"Wali kota yang berhasil resepnya satu, kolaborasi," kata Bima dalam webinar Pentahelix dan Percepatan Pemulihan Ekonomi Kota di Indonesia, Selasa (25/3).

 Salah satu cara kolaborasi yang sederhana adalah pentahelix yakni kerja sama antara kolaborasi pemerintah, universitas, pengusaha, komunitas, dan media. "Di era pandemi, teman-teman yang piawai dengan pentahelix lumayan bisa beradaptasi, bahkan berprestasi di era pandemi," ujar pria yang juga Wali Kota Bogor ini.

Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Phillips J Vermonte mengatakan, situasi global saat ini sedang menghadapi berbagai permasalahan, seperti perubahan iklim, pandemi, hingga bencana alam. Untuk menghadapi persoalan tersebut, masyarakat memerlukan kepala daerah yang memahami solusi teknokratis.

"Solusi itu tidak datang dari diri sendiri. Tapi melalui kontribusi pemikiran, pengalaman, hingga kolaborasi dengan unit pentahelix," katanya.

Terlebih, tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan solusi politik. Untuk itu, upaya menjaring masukan dari berbagai pihak diperkirakan dapat menghasilkan kebijakan yang optimal.

Sementara, Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria mengatakan, ketidakpastian tengah dihadapi oleh seluruh pihak. Untuk itu, kemampuan penyelesaian masalah secara multi variabel menjadi penting, terutama bagi kepala daerah.

Kepala daerah pun harus memiliki pemahaman yang sama dengan para aparat yang ada di bawahnya. "Banyak pemimpin yang kesulitan membangun frekuensi yang sama dengan anak buah." ujar dia.

Oleh karena itu, kemitraan menjadi penting untuk menghadapi ketidakpastian. Kepala daerah dapat bermitra dengan perguruan tinggi, politisi, dan pihak lainnya. "Perkuat kerja sama dalam rangka manfaatkan expertise untuk buat perencanaan dan policy yang ada," katanya.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait