Luhut Targetkan Data Kematian Kembali Masuk Indikator PPKM Pekan Depan

Pemerintah menghapus sementara data kematian pasien Covid-19 dari indikator penilaian PPKM
Ameidyo Daud Nasution
16 Agustus 2021, 22:21
kematian, ppkm, luhut, covid-19, data
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.
Petugas memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu (4/7/2021). Jumlah kematian akibat COVID-19 per hari Minggu (4/7/2021) mencapai 555 kasus, yang menjadi rekor tertinggi sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan indikator angka kematian pasien Covid-19 dalam penilaian perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Levl 1 sampai 4 akan digunakan lagi pekan depan. Saat ini pemerintah sedang memperbaiki  data tersebut. 

Sebelumnya Pemerintah menghapus sementara data kematian akibat Covid-19 dari indikator level  PPKM lantaran sedang perlu diperbaiki. Hal tersebut lantaran ternyata data yang ada tidak akurat karena tidak menunjukkan angka yang benar pada tanggal rilisnya.

"Dalam satu sampai dua pekan ke depan data dan pelaporan ini selesai sehingga indikator kematian akan masuk assesment level PPKM," kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (16/8).

 

Luhut sekaligus menepis anggapan pemerintah menghapus indikator kematian dalam penilaian PPKM. Dia mencontohkan, ada satu kota di wilayah Jawa dan Bali yang mengalami lonjakan pasien meninggal 77%  pada 10 Agustus lalu.

"Ternyata angka kematian tersebut berasal dari bulan Juli dan bulan-bulan sebelumnya," ujarnya.

Dia juga memerintahkan pemerintah daerah untuk membuat pusat isolasi khusus, tempat vaksinasi prioritas, dan rumah sakit rujukan Covid-19 bagi ibu hamil. Kebutuhan ini mendesak demi mengurangi angka kematian pada ibu hamil.

Pemerintah telah memperpanjang PPKM Level 4 di Jawa dan Bali hingga 23 Agustus mendatang.  Luhut mengatakan keputusan perpanjangan merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo setelah mengevaluasi angka penularan Covid-19 sepekan belakangan.

Luhut beralasan dalam pelaksanaan PPKM sepekan terakhir, kasus positif corona turun 76%, lebih besar dari pekan lalu yakni 59%. Selain itu angka pasien sembuh, kematian, positivity rate di Jawa dan Bali mulai menurun. "Kasus aktif juga telah turun 53% dari puncaknya 15 Juli lalu," kata Luhut.

Adapun Kementerian Kesehatan melaporkan lonjakan kasus positif corona hari ini mencapai 17.384 orang atau terendah sejak akhir Juni 2021. Sedangkan angka kematian bertambah  1.245 orang, meningkat dari 1.222 pada hari Minggu (15/8).  

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait