Tantangan Produk Berkelanjutan, Unilever: Konsumen Lebih Peduli Harga

Masih banyak konsumen yang mencari produk dengan harga murah ketimbang dampak keberlanjutannya. Oleh sebab itu Unilever memilih menggencarkan edukasi masyarakat
Image title
24 Agustus 2021, 16:15
unilever, produk berkelanjutan, katadata safe forum
Arief Kamaludin|KATADATA
Logo Unilever.

Pengembangan produk berkelanjutan ternyata masih memiliki tantangan besar. Head of Corporate Affairs & Sustainibility PT Unilever Indonesia, Tbk Nurdiana Darus mengatakan, masih banyak konsumen yang memprioritaskan harga.

Sebagaimana diketahui, sejumlah produk berkelanjutan memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan produk konvensional. Untuk itu, ia menilai pentingnya komunikasi dan edukasi produk berkelanjutan kepada konsumen.

"Masih banyak konsumen tidak bersedia membeli produk berkelanjutan karena mereka peduli harga, kualitas menyusul," kata Nurdiana dalam Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) Forum 2021, Selasa (24/8).

 Tak hanya itu, masih banyak konsumen yang belum berminat karena menganggap tidak ada perbedaan antara produk standar dan produk berkelanjutan.  Oleh sebab itu Unilever pun terus berupaya mencerdaskan konsumen terkait produk berkelanjutan.

Salah satunya, mengajak konsumen mengetahui bahan baku dan tujuan pembuatan produk mereka. Ini agar pembeli menyadari apakah material yang digunakan mereka datang dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kemudian, Unilever juga mengingatkan konsumen untuk mengetahui dampak sosial dari produk yang dikonsumsi. "Apakah membantu pemulung atau ibu-ibu PKK," katanya.

Selanjutnya, konsumen diajak untuk mencari tahu apakah produk melakukan upaya pelestarian lingkungan. Berikutnya, perlu diketahui apakah produk memiliki tujuan mulia  nyata agar pembeli memahami produk yang dibeli.

"Jadi mengajak masyarakat untuk cerdas dalam memilih dan pensaran mengetahui suatu produk, cari tahu produk ini bagus atau tidak," katanya.

Head of Katadata Insight Center Adek Media Roza mengatakan, sebagian konsumen belum memahami definisi produk berkelanjutan. Sebagian konsumen pun menjawab produk berkelanjutan ialah produk yang bisa dipakai berulang atau recycle.

"Padahal tidak terbatas recycle. Ini menjadi tantangan kita semua, stakeholder, industri, dan media dalam sosialisasi produk berkelanjutan," katanya.

Adapun, strategi tepat untuk mendekati konsumen ialah melalui promosi di media sosial. Hal ini berdasarkan hasil survei Katadata Insight Center bertajuk “Katadata Consumer Survey on Sustainability” yang merangkum pendapat 3.631 responden dari seluruh Indonesia.  Survei dilakukan secara online pada responden berusia berusia 17-60 tahun, pada 30 Juli-1 Agustus 2021.

Dalam survei, lebih dari 80% responden merpakan generasi x, y, dan z. Responden tersebut mendapatkan informasi produk ramah lingkungan dari media sosial. "Jadi kampanye di medsos itu penting untuk produk ramah lingkungan," katanya.

Upaya promosi bisa dilakukan dengan menggaet pengguna medsos yang memiliki banyak pengikut, mengadakan acara langsung, hingga melibatkan kelompok gen z. Selain itu, promosi melalui televisi dan media online masih menjadi pilihan.

Salah satunya, media dengan jurnalistik berkualitas masih menjadi acuan bagi konsumen untuk mencari informasi. "Ini tak terlepas dari hoaks dan disinformasi. Jadi mereka pilih media yang reliable," ujar dia.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait