Energi Terbarukan Diminati, Korporasi Antre Pakai Sertifikat EBT PLN

Perusahaan yang meminati sertifikat EBT dari PLN antara lain PT Amerta Indah Otsuka, Reckit Benkiser, PT Air Liqide, dan PT Vale Indonesia
Image title
25 Agustus 2021, 15:32
PLN, ebt, energi terbarukan
ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/aww.
Petugas mengecek panel surya di Kampung Wejim Timur, Distrik Kepulauan Sembilan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (3/2/2021). PLN UP 3 Sorong melakukan uji coba pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai salah satu dukungan program Papua Terang dengan menggunakan energi terbarukan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Tren penggunaan energi baru dan terbarukan semakin meningkat belakangan ini. Bahkan Perusahaan Listrik Negara atau PT PLN (Persero) mengatakan sudah ada beberapa perusahaan multinasional berminat menggunakan sertifkat EBT atau Renewable Energy Certificate (REC).

Beberapa korporasi itu meliputi PT Amerta Indah Otsuka sebesar 2.300 unit REC/bulan, Reckit Benkiser 800 unit REC/bulan untuk 2 ID pelanggan, PT Air Liquide 700 ribu unit REC selama 7 tahun, dan PT Vale Indonesia 2,8 juta unit REC selama masa kontrak.

REC merupakan sertifikat EBT yang dikeluarkan oleh PLN sebagai bukti bahwa konsumen menggunakan listrik yang berasal dari energi hijau dan ramah lingkungan. Namun, total nilai bisnis baru PLN itu baru mencapai Rp 7,4 miliar.

"Total ada 69 ribu lebih konsumen listrik sudah mengkonsumsi REC dengan total REC terbit kurang lebih 211 ribu hingga Agustus 2021," kata Vice President Director PT PLN Hikmat Drajat dalam acara Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) Forum 2021, Rabu (25/8).

 

REC tersebut dijual kepada dua jenis pelanggan, yaitu ritel dan enterprise basis. Pelanggan ritel ditujukan untuk pelanggan rumah yang ingin berkontribusi dalam layanan EBT.

Adapun, biaya REC yang dijual sebesar Rp 35 ribu per MWH. Hikmat mengatakan langkah ini merupakan model investasi yang efektif meski belum merogoh kocek dalam untuk investasi energi terbarukan.

"Jadi PLN membantu pelanggan tanpa harus investasi dalam pembangunan EBT, tapi diakui berkontribusi dalam carbon footprint," ujar dia.

Adapun, PLN hingga saat ini memiliki kapasitas EBT sebesar 10 gigawatt. Mereka juga sedang  meregistrasi REC secara bertahap di insitusi global sesuai dengan kebutuhan pasar.

Meski begitu, Hikmat mengatakan ada sejumlah institusi yang memilih investasi pembangkit listrik EBT secara mandiri. Padahal, pembangunan pembangkit  membutuhkan modal tinggi. "Artinya secara nasional terjadi double capital landing dalam EBT, " katanya.

Salah satunya, Danone Indonesia membangun atap solar panel di 4 pabriknya. Keempat pabrik itu ialah Ciherang Bogor dengan kapasitas 770 kWp, Banyuwangi berkapasitas 378 kWp, Klaten kapasitas 2.919 kWp, dan Mekarsari Sukabumi kapasitas 2.112 kWp.

"Ini inisiatif kami untuk mencapai Renewable Energy 100% (RE 100) pada 2030 melalui installing solar panel," kata Director Sustainable Development Danone Indonesia Karyanto Wibowo.

Ia mengatakan, Danone masih memiliki 20 pabrik lainnya yang belum menggunakan solar panel. Pihaknya pun akan berupaya untuk inovatif dalam mencapai target RE 100 lantaran dampak pengurangan karbon di perusahaannya masih kecil.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait