Pasca-Gabung Koalisi, PAN Berpeluang Dapat Kursi di Kabinet Jokowi

Ketua Umum Zulkifli Hasan dan Sekjen PAN Eddy Soeparno ikut dalam pertemuan partai koalisi dengan Presiden Jokowi di Istana, Rabu (25/8).
Image title
26 Agustus 2021, 11:04
PAN, jokowi, kabinet jokowi, reshuffle menteri, eddy soeparno
ANTARA FOTO/Jojon
Ketua Umum PAN periode 2020-2025 Zulkifli Hasan (ketiga kanan), Ketua MPP PAN Hatta Rajasa (ketiga kiri) dan sejumlah pengurus PAN berfoto bersama usai memberi keterangan pers pada Kongres V PAN di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (12/2/2020). Ketua Umum PAN terpilih Zulkafli Hasan berharap pada tahun 2024 Partai Amanat Nasional bisa menduduki posisi ketiga perolehan suara pada Pemilu.

Partai Amanat Nasional (PAN) telah dinyatakan resmi masuk dalam koalisi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menilai, langkah ini adalah upaya Jokowi memperkuat dukungan politik dalam mengamankan kebijakan di parlemen.

Meski begitu, ia memperkirakan Jokowi akan membagikan jatah satu kursi kabinet kepada PAN sebagai kompensasinya. "Seperti itu etika dan konstruksi politiknya," ujar Ujang kepada Katadata.co.id, Kamis (26/8).

Ujang juga memperkirakan koalisi yang semakin gemuk tetap akan menguntungkan Jokowi.  Langkah Presiden untuk memuluskan kebijakan di parlemen akan semakin mudah.

"Jokowi ingin amankan kekuasaan. Karena selama ini banyak pihak yang kecewa dan ingin menggoyang dirinya. Termasuk tuk mengamankan kebijakannya di Parlemen," kata Ujang.

Advertisement

Sementara, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai Jokowi membutuhkan dukungan parlemen di tengah pandemi, terutama dukungan dari elemen non koalisi seperti PAN.

Hal ini dilakukan lantaran Kepala Negara khawatir ada oposisi dari pihak koalisi. Sebab, tidak ada jaminan loyalitas secara total dari parpol. "Apalagi Zulkifli Hasan dekat dengan Presiden. Yang berbeda (sebelumnya) hanya Amin Rais," ujar dia.

Adi mencontohkan, PDI Perjuangan belum lama ini mengkritik Jokowi. Selain itu, ada pula kutukan periode kedua, yaitu presiden ditinggalkan partai karena persiapan pemilu.

"Dan bisa muncul sikap kritis dari dalam. Seperti Golkar kritis pada zaman SBY (Presiden RI ke-6)," ujar dia. Untuk itu, Jokowi ingin memastikan tambahan koalisi ini akan memberikan loyalitas yang tak diragukan.

Meski begitu, Jokowi diperkirakan akan memberikan jatah kursi kabinet kepada partai berlogo matahari itu. Namun, Presiden perlu mengatur pola kinerja menteri. "Bicara politik, tidak ada persoalan. Prinsipnya jangan mengurangi jatah politik," kata Adi.

Sebelumnya, Jokowi mengundang pimpinan partai politik koalisi pemerintah di Istana Negara, Jakarta pada Rabu (25/8). Dalam pertemuan tersebut, Jokowi juga mengundang anggota baru koalisi pemerintah yaitu PAN.

"(Yang hadir) sahabat baru koalisi, Ketua Umum PAN Bapak Zulkifli Hasan dan didampingi oleh Sekjen Bapak  Eddy Soeparno," kata Sekjen Nasdem Johnny G. Plate di kompleks Istana, Jakarta, Rabu (25/8).

Menurutnya, keikutsertaan pantai berlogo matahari itu akan memperkuat gagasan dan ide baru dalam melanjutkan agenda pemerintah. Selain itu, kehadiran PAN akan mengisi demokratisasi di Indonesia.

Selain itu, pimpinan parpol yang turut hadir ialah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri didampingi Sekjen PDIP Hasto Kristianto, Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan Sekjen Nasdem Johnny Plate, serta Ketua umum Gerindra Prabowo Subianto dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

Turut hadir pula Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Sekjen Golkar Lodewijk Paulus, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen PKB Hasanudin Wahid, serta Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa didampingi Sekjen Arwani Thomafi.

Adapun Eddy Soeparno mengatakan partai berlambang matahari terbit tersebut telah mendukung kebijakan pemerintah sejak sebelum pertemuan. Ia lalu menyinggung kedekatannya dengan beberapa tokoh kunci partai koalisi Jokowi.

"Saya juga sudah lama dekat dengan sahabat saya mas Hasto (Kristiyanto), mas Lodewijk (Paulus), bang Johnny Plate, mas (Ahmad) Muzani dan sekjen parpol lainnya," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Rabu (25/8).

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait