Kasus Covid-19 RI Bertambah 1.390 Orang, Terendah Sepanjang 2021

Sedangkan angka rasio positif Covid-19 di Indonesia hari ini telah mencapai 0,91%
Ameidyo Daud Nasution
27 September 2021, 18:07
covid-19, virus corona, tes covid-19
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.
Petugas melakukan tes cepat (rapid test) Antigen COVID-19 terhadap warga yang tidak mengenakan masker saat sidak protokol kesehatan di kawasan Ubung, Denpasar, Bali, Rabu (19/5/2021). Sidak penerapan protokol kesehatan dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro tersebut terus dilakukan dan diperkuat untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 khususnya setelah berakhirnya larangan mudik Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah.

Angka penularan Covid-19 di Indonesia masih dalam tren penurunan usai melampaui puncaknya pada 15 Juli lalu. Pemerintah melaporkan kasus positif corona pada Senin (27/9) bertambah 1.390 orang.

Jumlah kenaikan kasus positif ini merupakan yang terendah pada tahun 2021. Tak hanya itu, tambahan pasien corona hari ini juga yang paling rendah sejak 3 Juli 2020 yakni 1.301 orang.

 

Jumlah kasus hari ini didapatkan dari pemeriksaan terhadap 151.966 orang. Ini berarti, angka rasio positif tes corona telah mencapai 0,91%.  

Provinsi Jawa Timur adalah penyumbang kasus terbanyak hari ini yakni 185 orang. Berikutnya adalah Jawa Barat dengan 149 pasien, dan DKI Jakarta yang melaporkan 103 kasus baru.

Sedangkan angka kematian pasien Covid-19 hari ini mencapai 118 orang. Jawa Timur menyumbang pasien meninggal terbanyak 14 orang, di bawahnya adalah Jawa Tengah dengan 12 pasien baru.

Adapun pasien Covid-19 yang sembuh mencapai 3.771 orang. Jawa Barat menyumbang angka kesembuhan terbanyak yakni 429 orang.

Pemerintah juga melaporkan angka kasus aktif menurun 2.499 menjadi 40.270 orang. Sedangkan 388.341 orang dinyatakan sebagai suspek Covid-19.

Sedangkan epidemiolog mengingatkan bahwa ada potensi pandemi corona semakin memburuk jika aktivitas semakin longgar. Data Google Mobility Report pada 18 September lalu menunjukkan ada peningkatan aktivitas warga di sejumlah tempat. 

 Secara nasional, mobilitas masyarakat ke toko bahan makanan dan apotek juga mulai meningkat 21% dibandingkan dasar pengukuran. Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengingatkan pemerintah bahwa lonjakan pandemi kerap diawali dengan pelonggaran aktivitas.

"Akhirnya, kegagalan dalam mengendalikan pandemi dan keinginan untuk beraktivitas akan merugikan kita sendiri," ujar Dicky kepada Katadata.co.id, Kamis (23/9).

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait