Survei KIC - Change- KawalCovid: 70% Warga Tak Setuju Vaksin Berbayar

Mayoritas responden menolak vaksin berbayar dengan alasan vaksinasi adalah hak setiap warga negara
Ameidyo Daud Nasution
29 September 2021, 15:00
vaksin, survei, KIC, covid-19
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Tenaga medis memasukkan cairan vaksin sinovac ke dalam jarum suntik saat vaksinasi Covid-19 di SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu, (29/9/2021). Pemerintah menggencarkan program vaksinasi bagi pelajar untuk mendukung pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sejumlah daerah.

Katadata Insight Center (KIC), Kawal Covid-19, dan Change.org mengeluarkan hasil survei terbaru berjudul Pandangan Masyarakat tentang Vaksinasi Covid-19. Dari penjaringan opini, mayoritas responden tidak setuju pemberian vaksin secara berbayar.

Survei dilakukan secara online pada tanggal 6 sampai 22 Agustus 2021 kepada 8.299 responden. Sedangkan metode yang digunakan adalah convenient sampling.

Dari hasil survei, sebanyak 70% responden menyatakan tak setuju vaksin berbayar. Sebanyak 73,9% beralasan vaksin merupakan hak seluruh warga negara, sedangkan 67,9% menyatakan vaksinasi berbayar tak adil bagi yang kurang mampu.

 

Selain itu ada 20,2% responden menyatakan setuju jika harus membayar untuk mendapatkan vaksin. Sebanyak 71,3% beralasan ini agar program vaksinasi lebih cepat selesai, sedangkan 52,4% mengaku ingin membayar agar vaksin gratis bisa diprioritaskan bagi yang tak mampu.

“Ada kecenderungan semakin senior usia dan semakin baik status ekonomi responden, maka dukungan terhadap skema  berbayar semakin tinggi,” kata Head of Katadata insight Center Adek Media Roza dalam keterangan tertulis, Rabu (29/9).

Adek menjelaskan, sebanyak 86,6% responden sesekali atau tiap hari menyarankan keluarga dan teman-teman mereka untuk menjalani vaksinasi. Sebanyak 78,7% mengaku memberikan ajakan dengan alasan untuk melindungi orang-orang terdekat.

Namun ada pula 1.113 atau 13,4% responden yang tak pernah menyarankan keluarga dan temannya untuk menerima vaksin. Alasan paling utama mereka adalah untuk memberikan kebebasan kepada orang terdekat yakni 81,4%.

Selain itu survei menunjukkan 52,6% responden berusaha tidak keluar rumah setelah menjalani vaksinasi. Sedangkan 43,2% tetap keluar dari tempat tinggalnya, namun mengenakan masker dan jaga jarak. Sisa 4,2% menyatakan kegiatan bisa dilakukan normal tanpa masker dan jaga jarak usai menerima suntikan.

Co-founder KawalCOVID19 Elina Ciptadi mengatakan pemahaman 95,8% responden yang menanggap vaksinasi tak memberikan 100% kekebalan adalah gambaran yang positif. Hal ini lantaran vaksinasi bukan satu-satunya jalan untuk mengatasi pandemi.

Elina mengingatkan warga untuk tetap menjaga protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Selain itu pemerintah tetap perlu mempercepat pemberian vaksin kepada masyarakat.

“Edukasi untuk mengurangi resistensi warga terhadap tes dan karantina tetap perlu dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait