Said Aqil Anggap Sikap NU pada HTI dan FPI Sebagai Ujian Moderasi

Said Aqil mengingatkan wasiat dari pendiri NU Hasyim Asy'ari untuk tak mempertentangkan nasionalisme dan agama
Image title
22 Desember 2021, 11:28
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kanan) didampingi Sekjen Helmy Faizal Zaini (kanan) dan Pendakwah NU Gus Miftah (kiri) memberikan keterangan pers tentang Lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Mo
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kanan) didampingi Sekjen Helmy Faizal Zaini (kanan) dan Pendakwah NU Gus Miftah (kiri) memberikan keterangan pers tentang Lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang mengatur soal investasi minuman keras di kantor pusat PBNU, Jakarta, Selasa (2/3/2021).

Pembukaan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama dimulai pada Rabu (22/12). Pada kesempatan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyinggung sikap NU ke Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI).

Said kembali mengingatkan wasiat dari pendiri NU Hasyim Asy'ari untuk tak mempertentangkan nasionalisme dan agama. Menurutnya, hal ini telah diamini ribuan ulama dan pesantren.

"Ujian moderasi polarisasi dua kutub ekstrem memang sudah khas NU sejak awal pendiriannya. Mereka yang tidak paham sikap NU atas HTI dan FPI barangkali belum mengerti betapa berat amanah moderasi kutub-kutub ekstrem di negeri ini," kata Said saat pembukaan Muktamar ke-34 PBNU di Pondok Pesantren Darussa'adah, Lampung Tengah, Rabu (22/12).

Bagi NU dan pesantren, menjaga NKRI merupakan amanah lantaran tuntunan agama dapat diselenggarakan hanya dengan setia kepada konstitusi. Bahkan Said juga membandingkan agama dan sikap nasionalisme antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah.

Advertisement

Di wilayah tersebut, agama tidak menjadi unsur aktif dalam mengisi makna nasionalisme lantaran pejuang nasionalis bukan pejuang agama. Sementara di Indonesia, pejuang Islam merupakan pejuang nasionalis.

"Di Timur Tengah, tidak banyak kita jumpai ulama nasionalis sebagaimana jarang ditemukan kaum nasionalis yang juga ulama," ujar dia.

Akibatnya, pihak yang mengatasnamakan dirinya nasionalis dan agama sering bertentangan. Alhasil, konflik sektarian pun timbul satu per satu, seperti di Palestina, Suriah, Myanmar, Somalia, Yaman, dan Afghanistan.

Konflik itu mencerminkan rangkaian ketidaktuntasan menjawab tantangan zaman. "Belum ditemukan titik temu antara semangat Islam dan semangat nasionalisme," katanya.

SANTRI LIRBOYO KEMBALI KE PONPES
SANTRI LIRBOYO KEMBALI KE PONPES (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/aww.)

 

Dalam kesempatan itu, Said juga menjelaskan sejarah pendirian NU yang lahir pada era kolonialisme Belanda.   Organisasi tersebut lahir dari transformasi praktik kemandirian jamaah.

"Kemandirian komunitas pesantren yang sleama berabad-abad bertahan hidup dalam tekanan kolonialisme," ujar dia. 

Sebagai informasi, Muktamar ini akan memutuskan Ketua Umum baru kapal besar Nahdliyin tersebut. Selain Said, calon kuat pimpinan NU adalah Yahya Cholil Staquf.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait