Bos Pertamina: Subsidi Solar Saat Ini Lebih Tinggi dari Harga Jualnya

Pertamina ikut menanggung biaya kompensasi subsidi solar. Nicke meminta Pemerintah mengkaji ulang skema ini dikaji karena menggerus kas perusahaan
Image title
29 Maret 2022, 20:13
pertamina, solar, subsidi
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/tom.
Dirut Pertamina Nicke Widyawati bersiap mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/3/2022).

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, mengatakan tingginya harga minyak dunia turut berdampak pada tingginya pengeluaran subsidi pada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Bahkan ia menjelaskan bahwa angka subsidi solar lebih besar daripada harga jualnya saat ini.

Nicke membandingkan, harga solar non subsidi seperti Dexlite dijual di harga Rp 12.950 per liter.  Sementara solar subsidi sebesar Rp 5.150 per liter. Pemerintah memberikan subsidi Rp 500 per liter, sisanya ditanggung lebih dulu oleh Pertamina dengan skema kompensasi.

“Sekarang ini subsidi sebesar Rp 7.800 per liter. Jadi nilai subsidinya lebih besar dari harga jualnya,” kata Nicke saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, Senin (29/3).

 

Advertisement

Kenaikan ini lantaran harga minyak dunia yang merangkak hingga menyentuh US$ 119 per barel. Angka ini jauh di atas asumsi harga minyak yang ditetapkan oleh pemerintah dalam APBN 2022 yakni US$ 65 per barel.

Sedangkan saat ini pemerintah masih menggunakan mekanisme kompensasi dalam pengaturan subsidi pemerintah. Selisih harga antara solar non subsidi dengan solar subsidi sebesar Rp 7.800 per liter. Jumlah ini kemudian dikurangi oleh subsidi pemerintah sebesar Rp 500 per liter sehingga menghasilkan sisa angka kompensasi Rp. 7.300 per liter. 

“Kompensasi yang kemudian dari sisi penetapan angkanya nanti penggantiannya berbeda, ini yang menggerus cash flow Pertamina. Mungkin mekanisme ini perlu di-review ulang agar tidak memberatkan," kata Nicke.

Saat ini realisasi penjualan kepada masyarakat sampai bulan Februari sudah melebih kuota. Dalam dua bulan terakhir, mayoritas regional, kecuali regional Maluku Papua, rata-rata mengalami peningkatan kuota solar subsidi hingga 10 persen.

Sedangkan hingga Februari 2022, realisasi penyaluran solar subsidi mencapai 2,49 juta kilo liter. Jumlah ini naik 10 persen dari kuota yang ditetapkan sejumlah 2,27 juta kilo liter.

“Walaupun secara aturan kami tidak boleh over quota tapi dengan mempertimbangkan peningkatan mobilitas dan logistik masyarakat, apalagi menjelang Ramadan dan Idul Fitri, maka kami naikkan kuota penyaluran solar subsidi,” tukas Nicke.

 

 

 

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait