Jokowi Minta Booster Jadi Syarat Perjalanan hingga Aktivitas Warga

Angka vaksin booster di Indonesia masih rendah di tengah penularan Covid-19. Jokowi memerintahkan para menteri mencari jurus menggenjot dosis ketiga.
Ameidyo Daud Nasution
4 Juli 2022, 16:46
booster, vaksin, jokowi, covid-19
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.
Petugas kesehatan menyuntikan vaksin COVID-19 kepada seorang warga saat vaksinasi yang diselenggarakan Polres Tangerang Kota dalam rangka HUT Bhayangkara Ke-76 di Neglasari, Tangerang, Banten, Rabu (15/6/2022).

Presiden Joko Widodo akan menjadikan vaksinasi dosis ketiga atau booster menjadi syarat kegiatan masyarakat hingga perjalanan. Hal ini lantaran angka pemberian vaksin tersebut masih rendah di tengah penularan Covid-19 yang meningkat.

Hal tersebut merupakan arahan Jokowi kepada para menteri pada rapat terbatas soal Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Senin (4/7). Jokowi meminta jajarannya segera mencari cara untuk meningkatkan angka booster.

"Arahannya di bandara juga disiapkan vaksinasi dosis ketiga," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers, Senin (4/7).

 Airlangga mengatakan, saat ini rata-rata vaksinasi booster di luar Jawa Bali masih berada di bawah 20%. Bahkan, angka pemberian vaksin dosis promer di Maluku, Papua, dan Papua Barat belum mencapai 50% dari total penduduk.

Advertisement

"Presiden meminta pemberian dosis satu, dua, hingga tiga naik," kata Koordinator PPKM luar Jawa Bali itu.

Di kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadiking mengatakan bahwa Jokowi meminta para menteri mencari cara yang kreatif agar masyarakat mau menerima booster.

"Misalnya begitu masuk mal disyaratkan vaksin, nanti ternyata masyarakat akan mau. Perlu hal-hal seperti ini," kata Budi.

Budi menjelaskanl, rendahnya angka booster ini lantaran masyarakat merasa kuat usai mendapatkan dua kali suntikan vaksin primer. Padahal kekebalan akan menurun usai enam bulan vaksinasi.

"Di mana-mana, tidak di sini saja, orang sudah mulai underestimate (anggap remeh)," katanya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait